RENUNGAN INSPIRASI
Dalam ilmu psikologi, terdapat fenomena yang dapat menyebabkan seseorang menginterpretasikan sesuatu dengan kurang tepat berdasarkan sejumlah faktor. Sebagai ilustrasi, penilaian seseorang terhadap kelezatan makanan seringkali bergantung pada selera pribadi. Setiap individu cenderung memberikan pendapat berdasarkan pengalamannya sendiri, yang bisa mengakibatkan persepsi yang bias terhadap suatu kenyataan. Belum lagi, seseorang sangat dipengaruhi oleh latar belakang dan keadaan di sekelilingnya dalam memahami sesuatu.
Bias pada penilaian kelezatan makanan menjadi hal yang lazim. Yang berbahaya adalah jika fenomena ini terjadi saat kita membaca, memahami, dan membagikan Firman Tuhan. Terkadang, kita mungkin secara tidak sengaja mengurangi atau menambahkan makna suatu ajaran berdasarkan interpretasi, pengalaman, latar belakang, bahkan kepentingan kita sendiri. Di dalam Alkitab, Hawa menambahkan kebenaran pada firman Allah. Sebelumnya Tuhan memberi perintah untuk tidak memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Kemudian saat ular mencobai Hawa dengan pertanyaan yang diputarbalikkan, Hawa menjawab, "Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu". Hawa menambahkan firman Allah untuk tidak merabanya. Terlebih lagi Hawa bermain dengan interpretasinya sendiri dalam ayat 6, "Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian." Sejak saat itu, manusia mengalami kematian rohani karena telah jatuh dalam dosa. Hawa seharusnya memegang teguh apa yang Allah firmankan dan tidak bermain-main dengan interpretasinya sendiri terhadap buah pengetahuan (Kejadian 3:6). Ini menjadi peringatan bagi kita untuk tidak menyesuaikan Alkitab berdasarkan logika, interpretasi, atau kepentingan kita sendiri. Sebagai murid Yesus, kita harus setia pada Firman Tuhan dalam kesuciannya, tanpa menambah atau menguranginya. Jika ada yang membingungkan, bacalah komentari Alkitab yang direkomendasikan, tanyakan pada pemimpin rohani Anda. Niscaya, Alkitab yang merupakan panduan hidup akan menuntun kita menuju kehidupan kekal. [KH, LS]