Dulu, mencintai diri sendiri dan pemenuhan harga diri adalah ajaran yang hampir tidak pernah kita dengar. Namun, semenjak penyakit mental, neurotisisme (tidak stabil secara emosi), kepahitan, kekerasan, dan kekacauan sosial lainnya semakin merebak, ditambah dengan penggunaan media sosial yang tak terbendung dan tak terfilter dengan baik, mencintai diri sendiri dan pemenuhan harga diri tampaknya digadang-gadang sebagai solusi. Semua argumennya tampak positif memang, tapi jika kita coba merenungkannya dalam-dalam, benarkah solusi itu tepat sasaran dan sejalan dengan ajaran Yesus? Jangan sampai kita berpikir bahwa kita adalah pengikut Yesus, namun sebenarnya kita adalah pengikut diri sendiri yang selalu mengejar pemenuhan diri.
Meskipun kita semua berada pada tingkat pertumbuhan rohani yang berbeda-beda dalam proses mengikut Yesus, kita harus selalu menyadari bahwa setiap kita dipanggil untuk berserah dan mengabdikan diri sepenuhnya pada Yesus. Jika hidup kita diisi oleh rasa cinta diri sendiri dan Yesus hanya untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, mohon maaf itu bukan cara hidup orang Kristen. Orang yang mengikut Yesus, tidak hidup untuk diri sendiri dan tidak berpusat pada pemenuhan harga dirinya. Di dalam Alkitab, Yesus secara jelas mengatakan bahwa untuk mengikut Dia, kita harus menyangkal diri atau dengan kata lain menolak kehidupan yang egois. Teolog Dietrich Bonhoeffer mengatakan bahwa inti dari menyangkal diri adalah mati terhadap segala sesuatu yang ingin dimiliki oleh keinginan daging. Ini tidak mudah, tapi jika kita tidak pernah melatih dan membiasakannya, kita akan selalu menjadi murid yang gagal. Jadi, seperti yang Yesus bilang, "ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari". Kata "setiap hari" menekankan tindakan aktif yang reguler, konsisten, dan kontinu. Jadi, sangkal diri dan pikul salib bukan hanya seperti Anda menahan sakit radang sendi atau bukan hanya Anda yang harus menerima tinggal satu atap dengan pasangan yang sulit, tapi ini berbicara hal-hal yang sebenarnya dapat dengan mudah Anda hindari namun Anda memilih untuk memikulnya demi Yesus, termasuk belajar mengurangi minat atas hal-hal duniawi. Ingat, dua perintah besar kita adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama, dan itu selalu berkaitan dengan tindakan kita untuk memberi, berkorban, dan menyerahkan kendali hidup kita kepada Tuhan. Ketika Anda mengikut Yesus dan mati terhadap diri sendiri, Ia dengan murah hati memberi Anda kepuasan tertinggi sebagai "bonus". Semoga kita ditemukan Tuhan sebagai orang-orang yang mau menyangkal diri dan pikul salib demi Kristus. Supaya kelak Anak Manusia datang kembali, Ia tidak malu dan mengakui kita. [LS]