Dalam situasi-situasi tertentu, seseorang bisa membenarkan yang tidak benar dan merasionalisasi sesuatu yang jelas-jelas salah. Karena situasi yang menghimpit, seseorang bisa bertindak berdasarkan logikanya dan mentoleransi perbuatannya yang salah. Inilah yang terjadi dengan kedua putri Lot, yang meniduri ayahnya sendiri agar memiliki keturunan. Ini benar-benar tidak etis. Mereka berusaha mempertahankan garis keturunannya dengan cara yang salah karena didorong rasa takut dan putus asa.
Tindakan kedua anak Lot ini menunjukkan penerimaan mereka terhadap standar moral kota Sodom yang sangat rendah. Mereka telah dipengaruhi oleh keadaan di sekitarnya. Tindakan anak-anak Lot ini jelas merupakan perbuatan dosa, terlepas dari apa pun alasan mereka. Hasil dari keturunan Lot dan kedua anak perempuannya itu adalah Bangsa Moab dan Bangsa Amon, suatu bangsa yang memberontak terhadap Tuhan, yang juga kelak menjadi musuh Israel. Mungkin adalah cara Tuhan untuk menghukum dosa mereka. Perenungan hari ini membuat kita melihat bahwa orang cenderung berusaha membuktikan bahwa tindakannya yang salah sekalipun adalah benar ketika sedang diperhadapkan dengan kebuntuan dan himpitan. Sebagaimana dikatakan oleh penulis Amsal, "Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati." Itu sebabnya kita harus memegang standar firman Tuhan untuk menilai apakah tindakan kita benar atau salah. Karenanya, penting bagi kita untuk bertumbuh dalam kebenaran firman Tuhan (Efesus 4:15). Saat mulai tergoda untuk merasionalkan sesuatu yang salah, berpeganglah teguh pada kebenaran itu, sekalipun kenyataannya akan pahit atau tidak sesuai harapan. Sebelum melakukan sesuatu, tanyakan dengan jujur, apakah hal yang akan kita lakukan itu selaras dengan firman Tuhan, apakah itu merupakan kehendak-Nya dan menyenangkan hati-Nya? Pertanyaan ini akan menolong kita untuk tidak merasionalisasi perbuatan dosa. [RS]