Di era sekarang, konten media sosial menjadi hal yang tak terpisahkan dengan eksistensi diri. Banyak orang berlomba-lomba membuat konten, termasuk para pelayan dan hamba Tuhan. Tanpa memperhatikan ajaran yang sehat dan alkitabiah, atau tujuan yang murni untuk menyebarkan kabar baik, sebuah konten dimaksudkan untuk mencari perhatian semata agar menjadi viral. Jumlah subscriber dan follower meningkat, dan tentu menjadi wadah dalam meraup keuntungan.
Ironi demikian sebenarnya telah ada sejak dahulu. Ada orang-orang yang memanfaatkan pelayanan karena motif keuntungan pribadi mereka. Terhadap hal ini, Rasul Paulus mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan (1 Timotius 6:5). Orang-orang demikian melayani hanya demi kepentingan pribadi, sehingga motivasi pelayanan tidak didasari dan digerakkan oleh kasih. Kepada para pemuka agama yang melayani Allah, yaitu kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, Yesus pernah berkata bahwa mereka adalah orang-orang munafik. "Kalian menipu janda-janda dan merampas rumahnya dan untuk menutupi kejahatan itu kalian berdoa panjang-panjang." (Matius 23:14 BIS). Mereka melayani Allah karena motif keuntungan dan memanfaatkan orang-orang atas nama pelayanan. Atas hal inilah Yesus menegur mereka dengan keras, "Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat." (Matius 23:14). Ini juga menjadi peringatan keras dan menjadi perhatian khusus bagi kita para pelayan dan hamba Tuhan. Motivasi satu-satunya dalam melayani Tuhan adalah karena kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan sesama kita. Mari kita senantiasa menilik dan menjaga kemurnian motivasi terdalam kita dalam melayani. Apa yang memotivasi kita melayani Tuhan? Sudahkah kita melayani Tuhan dengan motivasi yang benar? Di dalam Yeremia 45:5, firman Tuhan telah memperingatkan kita, "Masakan engkau mencari hal-hal yang besar bagimu sendiri? Janganlah mencarinya!" [RS]