Kita semua berjuang dalam hidup ini untuk menjadi orang yang lebih baik. Tidak semua masa lalu yang kita ukir meninggalkan jejak yang membanggakan. Pun dengan para penulis Alkitab yang juga adalah manusia biasa seperti kita. Rasul Paulus misalnya. Masa lalunya yang kelam sangat mungkin menjadi jerat yang menghantui. Namun dengan segala latar belakang yang ada, ia menghabiskan seluruh hidupnya sejak pertobatan hingga kematiannya sebagai martir, bekerja tanpa lelah bagi kerajaan Allah. Paulus mengatakan bahwa ia melupakan yang telah lalu dan mengharapkan yang akan datang, "saya berusaha mencapai akhir perlombaan untuk menerima pahala yang telah disediakan Allah bagi kita di surga, karena apa yang dilakukan Kristus bagi kita." (Filipi 3:14 FAYH). Segala yang Paulus lakukan dimotivasi oleh apa yang telah Kristus lakukan baginya dan bersamanya. Ia mengatakan bahwa dirinya telah disalibkan dengan Kristus. Yang perlu kita garisbawahi dari pernyataan Paulus, bukan hanya Yesus yang telah disalibkan bagi kita, kita juga telah disalibkan dengan Kristus.
Kesadaran yang dimiliki Paulus juga perlu kita miliki. Kita perlu menganggap diri kita sudah benar-benar mati bagi dosa. Kita mati terhadap keinginan dan pengejaran yang egois, dan hidup untuk mengejar hal-hal yang menyenangkan Allah. Penulis T. S. Rendall mengatakan bahwa terlalu banyak orang Kristen menghadap ke dua arah pada waktu yang sama seperti istri Lot yang berlari ke satu arah, tetapi menghadap ke arah lain. Banyak yang mengharapkan Surga tapi juga mencintai dunia. Jangan ulangi kesalahan istri Lot. Marilah kita semua yang mengaku percaya kepada Kristus, menyadari bahwa kita juga sudah mati bersama-sama dengan Dia di kayu salib. Kuasa kebangkitan-Nya membawa transformasi yang luar biasa dalam hidup kita supaya kita tidak kembali pada kehidupan lama, tidak berdiri di atas rencana kita sendiri, dan selesai dengan segala keangkuhan hidup. [LS, IR]