Jika boleh jujur, kita sering kewalahan dengan banyaknya perintah Tuhan yang menantang. Kita harus sempurna seperti Bapa yang di Surga adalah sempurna. Kita harus mengasihi musuh, berbuat baik kepada yang membenci kita, memberkati yang mengutuk kita, dan berdoa bagi yang menganiaya kita. Kita pun harus menyerahkan semua kepunyaan kita saat memutuskan menjadi murid-Nya. Bersukacita selalu, berdoa tanpa henti, mengucap syukur dalam segala hal, dan masih banyak perintah-Nya yang lain.
Bukan hanya kita, murid-murid juga pernah merasa kewalahan dengan pengajaran Yesus (Lukas 17:1-5). Ia meminta para murid untuk menjaga diri supaya mereka tidak menyebabkan orang yang lemah tersandung. Yesus juga mengatakan jika saudara mereka berbuat dosa, mereka harus menegurnya, dan jika mereka bertobat, mereka harus mengampuninya, tak peduli berapa kali mereka melakukannya. Bagi para murid, ini sulit. Tidak menjadi batu sandungan dan harus mengampuni bukanlah perilaku yang otomatis. Maka mereka menanggapinya dengan mengatakan, "Tambahkanlah iman kami!". Jika saat ini kita berada dalam posisi yang sama dengan para murid, perhatikanlah perumpamaan Tuan dan hamba dalam bacaan Alkitab hari ini. Kita perlu melihat diri kita sebagai hamba Tuhan yang berhutang kepada-Nya. Hendaklah kita berkata, "Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." Maka ketika kita membaca Alkitab dan menghadapi perintah-perintah-Nya yang sulit, lihatlah pada salib Kristus, di mana Ia menyerahkan diri untuk kita. Dengan mengingat diri kita sebagai hamba yang berhutang kepada Tuhan, kita terdorong untuk melakukan perintah-Nya. Pun ketika kita disanggupkan mentaatinya, kita tidak menjadi sombong dengan berpikir bahwa kita hebat. Jadi mari setiap saat, ingat bahwa kita hanyalah seorang hamba yang berhutang kepada Tuhan untuk melakukan apa yang diminta oleh-Nya. [LS]