Kita pasti sudah tidak asing dengan cerita Kain dan Habel. Kain adalah seorang petani dan Habel bekerja sebagai gembala kambing (Kejadian 4:1-26). Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah kepada Tuhan sebagai korban persembahan. Habel pun berbuat hal yang sama dengan mempersembahkan anak sulung kambing dombanya. Tuhan mengindahkan korban persembahan Habel, tetapi tidak dengan persembahan Kain. Dikarenakan hal itu, hati Kain menjadi sangat panas dan mukanya muram. Panas hati tersebut menjadi penyebab Kain tega membunuh adiknya sendiri di padang. Ia berusaha menutupi perbuatannya, namun tidak ada hal yang tersembunyi di mata Tuhan. Mengetahui bahwa Kain telah membunuh adiknya, Tuhan melepas kutuk baginya. Kain menjalani sisa hidupnya sebagai seorang pelarian dan pengembara karena tidak berhasil bersabar menahan emosinya.
Siapa pun bisa mengalami panas hati. Pemicunya banyak dan beragam, seperti sikap pengendara yang arogan di jalanan, perselisihan antar penjual dan pembeli, serta banyaknya hal yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan kita. Emosi marah memang sulit di tengking, yang bisa kita lakukan adalah menjaga hati agar kita tidak sepenuhnya dikuasai oleh emosi hingga berbuat sesuatu yang ujungnya berbuah penyesalan. Emosi berubah-ubah dan sesaat, namun ripple effect (efek riak) dari tindakan emosional bisa berbuntut panjang. Emosi sesaat Kain menyebabkan ia membunuh Habel dan efek riaknya hingga ia harus dikutuk Tuhan menjadi seorang pelarian. Satu titik air saja ketika jatuh ke permukaan air akan membentuk gelombang yang perlahan meluas. Emosi walaupun sesaat, ketika tidak berhasil di kontrol bisa berakhir dengan konsekuensi yang panjang. Saat kita sudah tidak dikuasai emosi, kita bisa dengan mudah meminta maaf, namun ripple effect yang terlanjur tercipta akan membekas. Segala tindakan emosional memiliki konsekuensinya masing-masing, bahkan ketika Anda sudah diberikan pengampunan. Hari-hari ini penuh dengan tantangan, namun kita harus berusaha untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Marah pun jangan sampai berbuat dosa, marah pun jangan sampai berlarut-larut (Efesus 4:26). Usahakan untuk dapat menjaga hati dan kepala tetap dingin karena hal itu dapat menyelamatkan dirimu dari banyaknya penyesalan. [EV]