Ketika seseorang mati secara fisik, orang itu tak lagi memiliki kepekaan terhadap rangsangan dan segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Demikianlah dengan kita yang pada dasarnya telah mati secara rohani dalam dosa (Efesus 2:1), kita tidak memiliki kepekaan terhadap Tuhan dan firman-Nya. Kita dipisahkan dari Allah sebagai hukuman atas dosa-dosa kita, dan apabila kita tidak pernah dilahirkan kembali, maka kita dipisahkan dari Allah selamanya. Itulah sebabnya, kita perlu dilahirkan kembali.
Di dalam Alkitab, kelahiran baru kita dikaitkan dengan kebangkitan Kristus. Sebagaimana kata Petrus, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati." (1 Petrus 1:3), dan juga kata Paulus, "sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita--oleh kasih karunia kamu diselamatkan--dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga". Ketika kita percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita diidentifikasikan dengan Kristus dalam kematian dan juga kebangkitan-Nya, "kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru." (Roma 6:4). Teolog Wayne Grudem mengatakan bahwa dengan membangkitkan Kristus dari kematian, Allah Bapa menyetujui pekerjaan penderitaan dan kematian Kristus untuk dosa-dosa kita. Tidak ada lagi murka Allah yang harus ditanggung, tidak ada lagi rasa bersalah, semuanya dibayar lunas. Kristus tidak hanya membayar hukuman atas dosa dan mematahkan kuasa dosa atas hidup kita, kebangkitan-Nya pun memberdayakan kita untuk berjalan dalam kemenangan. Sesuai kata Paulus bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan supaya dosa tak lagi berkuasa dalam tubuh kita dan kita dapat mempersembahkan diri kepada Tuhan menjadi senjata kebenaran. Dengan mengetahui kuasa kebangkitan, marilah kita berjalan di dalamnya, yaitu dengan tinggal di dalam Kristus bagaikan ranting yang sangat bergantung pada pokok anggur. Tinggal di dalam-Nya dilakukan melalui doa setiap saat, mengikuti program Bible Reading di gereja kita, melalui penyembahan dan ketaatan kita pada petunjuk-Nya, serta melalui pelayanan kita. Praktik-praktik ini akan membantu kita untuk senantiasa merenungkan identitas baru kita di dalam Kristus yang telah bangkit. Ingat, kita bukanlah kita yang dahulu, jadi jangan bertindak seperti dulu. [LS]