Seorang pemuda terduduk lesu di dalam pengadilan, menunggu keputusan hakim atas aksi kejahatan yang telah ia lakukan. Ia akhirnya diputus bersalah atas tindak pidana perampokan disertai dengan kekerasan dan diganjar hukuman berat. Mendengar putusan hakim, sang pemuda mendengar suara tangisan ayah ibunya. Ketika digiring keluar dari ruangan pengadilan, ia meminta ijin petugas untuk sejenak mendekati orang tuanya. Ibunya memeluknya sambil menangis dan tanpa diduga ia menggigit telinga ibunya hingga terluka. Ketika ditanya mengapa ia melakukan hal itu, sang pemuda menceritakan kejadian saat ia kecil. Ia pernah tertangkap mencuri permen di sebuah toko, namun saat itu orang tuanyalah yang meminta maaf kepada pemilik toko. Dua belah pihak akhirnya mencapai kesepatakan dengan dalih bahwa ia masih kecil, belum mengerti apa-apa. Sesampainya di rumah, orang tuanya tidak memarahi atau menghukumnya, kehidupan berlanjut seperti tidak terjadi apa-apa. Pemuda itu berkata, "Andai saja waktu itu aku ditegur dan diberi hukuman, andai saja dari usia muda aku dididik dengan benar, mungkin aku tidak akan berakhir seperti ini."
Setiap orang rindu untuk dikasihi, namun persepsi kita tentang kasih cenderung berputar di sekitar hal yang menyenangkan seperti pelukan, pujian, belaian, dan lainnya. Terkadang kita lupa bahwa sejatinya teguran, ganjaran, dan hajaran adalah bentuk lain dari kasih. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya dan menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Dikoreksi ketika salah adalah bentuk kasih, dihajar dengan keras juga adalah bentuk dari mengasihi. Kita adalah manusia yang sarat dengan dosa dan kesalahan. Justru karena Bapa di Surga masih mengasihi kita dan menganggap kita sebagai anak-Nya, maka Ia setia mendidik kita, termasuk dengan cara yang keras. Walau pun ketika diproses dan disesah Tuhan tidak menyenangkan, namun percayalah bahwa semuanya itu diperlukan untuk menggiring kita kembali ke jalan yang benar. Bersyukurlah jika tangan Tuhan masih menghajar dan menyesah kita, artinya kita masih dianggap anak dan Allah Bapa masih mengasihi kita. Tunduklah pada semua didikan Bapa di Surga dan responi dengan benar. Didikan bapa di dunia bisa saja salah, namun didikan Bapa di Surga tidak pernah salah, ujungnya pasti kebenaran dan damai sukacita. [EV]