Pernahkah Anda merasa dimanfaatkan oleh seseorang melalui kebaikan-kebaikan mereka? Misalnya Anda diajak makan supaya Anda melakukan sesuatu untuk kepentingan pribadi si pengajak. Bisa dikatakan ajakan ini serupa "sogokan". Namun tentu tidak semua ajakan makan adalah upaya "menyogok". Ada orang yang melakukannya dengan motivasi benar, seperti ingin menolong, meringankan beban orang lain, atau ingin berbagi kebahagiaan.
Atas isu dimanfaatkan dan memanfaatkan ini, firman Tuhan sebenarnya memberi kita arahan bagaimana harus bersikap. Firman Tuhan mengajar kita untuk menjaga diri dengan memperhatikan baik-baik. Versi FAYH mengatakannya demikian, "Apabila engkau sedang makan dengan seorang pembesar, jagalah dirimu, janganlah engkau lahap walaupun makanannya serba sedap; karena mungkin ia sedang berusaha menyuap engkau, dan undangannya tidak akan mendatangkan kebaikan apa-apa." (Amsal 23:1 FAYH). Selanjutnya, kita diminta untuk tidak bergaul apalagi mengharapkan jasa pemberian mereka. "Jangan bergaul dengan orang-orang jahat; jangan mengharapkan jasa dan pemberian mereka. Kebaikan hati mereka adalah tipu muslihat; mereka ingin menggunakan engkau sebagai alat. Bahkan dikatakan bila menerima pemberian mereka, kita akan memuntahkannya dan harus menarik kembali pernyataan terima kasih atas ‘kebaikan hati’ mereka." (Amsal 23:6-7 FAYH). Tentu maksud dari firman Tuhan ini tidak mengajar kita untuk berpikir negatif terhadap orang lain, tetapi agar kita lebih peka, berhati-hati, mawas diri dan bijak dalam bergaul terhadap orang-orang yang demikian. Kita juga tak perlu iri terhadap orang-orang yang demikian, apalagi mencari perhatian dari mereka. Lebih dari pada itu, kita diajar untuk lebih mengandalkan Tuhan daripada manusia. [RS]