Secara alamiah, manusia memiliki mekanisme pertahanan diri dari sebuah perasaan yang dinamakan kesedihan. Sehingga ketika ada sesuatu yang berpotensi mendatangkan perasaan sedih, seseorang cenderung untuk menghindar, kabur, menyangkal, bahkan menekan perasaan tersebut. Namun, tahukah Anda bahwa Yesus berkata di dalam Alkitab, "Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira;" Apa maksud Yesus mengenai penyataan ini?
Ketika Yesus mengatakan hal tersebut, Ia sedang mengacu pada kesedihan para murid atas kematian-Nya, sementara para pemimpin Yahudi bersukacita karena musuh mereka telah disingkirkan. Namun, Yesus melanjutkan, "kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita." Ini artinya kesedihan para murid bersifat sementara. Tiga hari kemudian mereka akan melihat Yesus bangkit dan bersukacita (Yohanes 20:20), dan kegembiraan para pemimpin Yahudi juga bersifat sementara dibandingkan dengan kesedihan abadi saat mereka berdiri menghadapi penghakiman. Dari pernyataan Yesus, kita diajarkan bahwa dunia ini menawarkan kesenangan yang sementara atas hal-hal yang akan binasa. Jalan menuju sukacita yang sejati dan abadi juga seringkali perlu ditempuh melalui air mata dan kesedihan, "Bukankah Raja Penyelamat harus mengalami dahulu penderitaan itu, baru mencapai kemuliaan-Nya?" (Lukas 24:26 BIS). Di tengah-tengah proses hidup yang kita alami, kita sangat mungkin kehilangan banyak hal yang akan menyakiti hati kita. Namun, sadarkah kita bahwa hal-hal yang Tuhan ijinkan hilang dan pergi dari hidup kita, bisa jadi berpotensi menggiring kita pada kebinasaan? Tuhan sedang bekerja memurnikan iman kita. Tuhan ingin kita berduka atas dosa kita dan mati atas ke-aku-an kita. Ini adalah penghiburan yang luar biasa, jadilah orang yang kuat jika Anda mengalami berbagai duka selama Anda masih berada di dunia karena pemurnian iman kita, daripada kesedihan kekal yang akan datang. Dukacita apa yang Anda alami hari ini, Kristus berjanji mengubah kesedihan kita menjadi sukacita. Percayalah dan bersiaplah menerima sukacita sejati yang tak dapat ditukar dengan apa pun kelak. [KH, LS]