Kita harus selalu diingatkan bahwa keputusasaan adalah alat ampuh yang sering dipergunakan Iblis. Keputusasaan menyerang segala usia, merampas berkat-berkat orang percaya, dan menyebabkan efek samping negatif seperti kepahitan, amarah, depresi, dan pemberontakan terhadap Allah.
Kita sering dengar kisah tentang dua belas pengintai yang dikirim ke tanah Kanaan untuk menyelidiki tanah tersebut dan kembali dengan laporannya. Kita akan menarik beberapa prinsip mengenai karakteristik dan sebab dari raksasa keputusasaan yang menyerang mereka. Mereka menangis, merasa terjebak karena berpikir tidak ada tempat untuk tinggal (ayat 1). Mereka mengeluh dan bersungut-sungut karena keadaan (ayat 2). Mereka menyalahkan Tuhan (ayat 3). Mereka memberontak (ayat 4). Mereka mengancam membunuh (ayat 10). Inilah karakteristik yang muncul ketika Anda diserang keputusasaan. Mengerikan bukan? Jika ditelisik lebih dalam, kita akan menemukan bahwa keputusasaan disebabkan oleh karena ketergantungan kita bukanlah kepada Tuhan, melainkan pada manusia dan keadaan. Allah telah menyatakan Ia akan memberikan tanah Kanaan kepada mereka. Namun mereka mengabaikan janji Allah dan lebih bergantung pada laporan sepuluh orang. Mereka juga memilih untuk mendengarkan yang banyak dan mengabaikan sama sekali yang sedikit. Dunia kita terlalu bising dengan segala kecemasannya. Pertanyaannya, siapa yang akan kita dengar, suara dunia ini atau suara Tuhan yang memberi keberanian dan semangat? Kita perlu mengatasi raksasa keputusasaan yang mengakibatkan orang Israel tidak menikmati janji Tuhan. Menaklukkan keputusasaan memerlukan disiplin dan pengendalian diri yang tinggi. Bukan dengan pedang emosi, tapi dengan perisai iman. Ini artinya, diperlukan posisi bertahan. Rasul Paulus mengatakan bahwa dalam segala keadaan, pakailah percayamu kepada Tuhan sebagai senjata penangkis; dengan iman itu kita dapat memadamkan semua anak panah berapi dari si jahat (Efesus 6:16). Seperti Yosua dan Kaleb yang tetap teguh dalam iman mereka kepada Tuhan, maka mereka beroleh keberanian. Jadi, mari datang kepada Tuhan dengan menaruh kepercayaan dan keyakinan penuh kepada-Nya. Maka kita dapat melihat "tanah Kanaan" kita seperti Yosua dan Kaleb melihat. [LS]