Seorang bapak penampung kayu memanggil seorang pemuda yang dikenal cukup ahli dalam menebang kayu. Setelah sepakat dengan harga, pemuda tersebut mulai menebang pohon. Hasil tebangannya di hari pertama membuat sang bapak sangat kagum. Pemuda itu berhasil menebang 30 pohon. Keesokannya pemuda itu menebang lagi, berharap mendapat hasil yang lebih banyak, ia mengerahkan segala upaya terbaiknya. Tetapi ia hanya memperoleh 25 pohon. Hari ketiga dan hari-hari berikutnya, hasil yang ia capai semakin menurun. Pemuda berpikir bahwa kekuatannya sudah berkurang sehingga dia pun berniat menjumpai bapak tersebut guna mengundurkan diri. Namun si bapak melontarkan pertanyaan, "Kapan terakhir kali kamu mengasah kapakmu?". Pemuda itu menyadari bahwa ia tidak pernah mengasah kapaknya.
Dalam hidup ini, seringkali kita begitu terpaku untuk kerja keras guna mendapat hasil yang lebih besar. Memang benar, kita tak boleh mengabaikan kerja keras, sebab firman Tuhan juga meminta kita untuk mengerjakan dengan sekuat tenaga segala yang dijumpai oleh tangan kita (Pengkhotbah 9:10). Tetapi lebih dari itu, kita memerlukan hikmat seperti yang dikatakan oleh Raja Salomo, "Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat." Pernahkah Anda merasa letih, kehabisan energi, dan merasa kurang maksimal dengan hal yang Anda kerjakan? Sudahkah besi Anda diasah? Mengasah besi berarti kita mencari tahu letak masalah yang membuat keterampilan kita tidak diberdayakan secara maksimal dan melakukan pekerjaan kita lebih baik lagi. Jika dalam kehidupan kita ada hal-hal yang menghambat keterampilan kita, carilah akar masalahnya. Mintalah hikmat dari Tuhan untuk menolong kita menemukan hal-hal di mana "besi kita menjadi tumpul", lalu pertajamlah agar bisa lebih efektif. Percayalah bahwa Tuhan menghendaki setiap potensi kita terus digali dan buah pekerjaan kita digunakan secara maksimal dan berdampak, sehingga hidup kita jadi berkat di mana pun kita berada. [RS]