Karena sifat kejatuhan manusia, kita semua cenderung menjadi seorang pengambil dan penerima daripada pemberi. Namun dengan anugerah pengudusan Allah, Ia menghendaki kita semua bertumbuh menjadi seorang pemberi. Bukan tanpa sebab, karena ketika kita memberi, bukan hanya orang lain yang akan diberkati, tapi kita juga.
Kepada para penatua di Efesus, rasul Paulus mengingatkan sekali lagi mengenai teladannya yang bebas dari keserakahan dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, bahkan untuk rekan sekerjanya. Lebih dari teladannya sendiri, Paulus meminta mereka mengingat perkataan Tuhan Yesus yaitu lebih berbahagia memberi daripada menerima. Seorang pemberi dapat berbahagia karena mereka dibebaskan dari dosa keserakahan yang menjerat dan menghancurkan kita ke dalam berbagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan kita ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Seorang pemberi dapat berbahagia karena mereka diserupakan dengan gambar Kristus, di mana Yesus sendiri tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan. Seorang pemberi juga dapat berbahagia karena mereka dapat memiliki hubungan yang dalam dengan orang lain. Sebagaimana Paulus yang telah memberi diri dan harta bendanya untuk melihat orang lain bertumbuh di dalam Kristus, para penatua ini tahu bahwa Paulus sangat mengasihi mereka. Ketika tiba saatnya bagi Paulus untuk pergi, mereka sangat berdukacita, mereka menangis tersedu-sedu sambil memeluk Paulus, mereka berulang kali menciumnya. Hal-hal seperti ini tidak mungkin terjadi pada orang yang kikir dan tamak. Terlebih lagi seorang pemberi dapat berbahagia karena mereka dapat menuai upah yang kekal. Surga bukanlah hadiah karena Anda menjadi seorang pemberi. Surga adalah pemberian cuma-cuma dari Allah berdasarkan penyerahan diri Kristus di kayu salib. Dengan memberi dan berbagi, kita mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi diri kita di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya (1 Timotius 6:19). Tidak seperti investasi kita di dunia yang bisa hilang sekejap dalam kehancuran pasar, investasi kita di Surga aman dari segala sumber kerugian. Pertanyaannya sekarang, bagaimana Anda memberi harga pada investasi yang memberikan dividen abadi? Jadi, adalah berbahagia memberi daripada menerima sebab kita dibebaskan dari dosa keserakahan, diserupakan dengan gambar Kristus, memiliki hubungan yang lebih dalam dengan sesama, terlebih lagi kita menerima upah yang kekal. [LS