"Ada apa dengan dunia?" tanya Martyn Lloyd-Jones. Mengapa perang dan semua ketidakbahagiaan, kekacauan dan perselisihan ada di antara manusia? Banyak yang menyalahkan penderitaan dan ketidakbahagiaan yang terjadi di dunia ini dikarenakan kurangnya pendidikan, kesempatan, atau sumber daya. Tetapi alasan yang paling mendasar adalah dosa.
Allah adalah sumber segala kebahagiaan, sedangkan dosa memisahkan kita dari Allah. Ini mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa dosa memisahkan kita dari kebahagiaan. Saat Adam dan Hawa berbuat dosa, mereka meninggalkan kebahagian yang mereka miliki di Taman Firdaus. Iblis adalah musuh kebahagiaan Allah dan kebahagiaan kita. Ia tidak bisa merampok kebahagiaan Tuhan, sehingga ia menyabotase kebahagiaan kita. Ia menangkap kita dengan umpan kesenangan. Banyak perbuatan dosa yang tampak begitu menyenangkan saat pertama kali kita melakukannya, tetapi kesenangan yang diberikan dari dosa sifatnya sesaat, dan karena tidak memuaskan, dosa terus menuntut peningkatan intensitas. Pada awalnya, kesenangan yang ditawarkan dosa nampak lebih besar daripada kesengsaraan. Namun pada akhirnya, kesengsaraan meningkat, dan kebahagiaan memudar. Hal yang tadinya memberi kita kesenangan, malah merampas sukacita sejati dari kita. Kesenangan yang kita dapatkan di dalam dosa akan menjauhkan kita dari kebahagiaan sejati yang hanya ditemukan dalam Tuhan. Pendeta William Bates berkata, "Pengaruh dosa yang paling merusak adalah pemisahan jiwa dari Allah; dan pemulihan kita menuju kebahagiaan, adalah dengan bersatu kembali dengan Dia." Tanpa pengampunan dan pertobatan, tidak ada pemulihan hubungan dengan Allah kita. Tidak mungkin ada kebahagiaan tanpa pengakuan, pengampunan, dan hubungan yang benar dengan Sumber Kebahagiaan itu sendiri. Dosa membutuhkan solusi yang radikal, yaitu keselamatan di dalam Kristus yang mengubah natur kita, dan secara dramatis mempengaruhi kemampuan kita untuk merangkul kebahagiaan yang besar di dalam Allah. Ketika hati kita berubah sebagai manusia baru di dalam Kristus, kehendak kita diperbaharui dan kita dimampukan untuk membuat pilihan yang benar. Sebagai hasilnya, kita bebas untuk menolak dosa dan kesengsaraannya, merangkul kebenaran dengan kebahagiaannya yang sejati dan abadi. [EH]