Orang-orang banyak berinvestasi dalam hal pendidikan/kecerdasan, posisi/kekuasaan, dan juga uang. Banyak sekali orang pintar dalam bidangnya masing-masing. Sayangnya, budaya kita gemuk dalam informasi, namun tipis dalam kebijaksanaan. Pada dasarnya, Firman Tuhan sendiri tidak mengabaikan kerja keras dan pelatihan yang baik. Namun lebih dari pada itu, kekristenan menekankan pentingnya hikmat ilahi. Sebab tanpa itu, bahkan orang yang paling berpendidikan, paling kaya, dan paling berkuasa sekali pun, membuat pilihan-pilihan yang buruk dan keliru. Tanpa pandangan yang alkitabiah, seseorang sulit memutuskan yang terbaik.
Firman Tuhan hari ini memperlihatkan kepada kita bagaimana Abigail menghadapi Nabal, suaminya yang dursila, bersamaan dengan Daud yang sedang sangat marah dan siap mengadakan pembalasan terhadap Nabal dan keluarganya. Kita yang pernah menghadapi orang yang sulit dalam situasi yang sulit dan waktu yang mendesak, tahu persis kondisi yang menantang seperti ini. Di titik inilah kita melihat Abigail menerapkan hikmat Tuhan dalam hubungan dan dalam mengajukan permohonan. Bahkan bujangnya tahu kebijaksanaan nyonyanya (ayat 17). Di dalam seruannya kepada Daud, kita melihat wawasannya yang alkitabiah. Abigail memberi tahu Daud bahwa Tuhanlah yang mencegahnya menumpahkan darah dan bertindak sendiri dalam mencari keadilan (ayat 26). Ia meyakinkan Daud bahwa Tuhan akan membangun baginya keturunan yang teguh (ayat 28). Ia juga mengingatkan bahwa Tuhan akan melindunginya, dan musuh-musuhnya akan dilempar jauh oleh Tuhan (ayat 29). Dari Abigail kita belajar untuk mengutamakan Tuhan sebagai sumber kebijaksanaan yang sejati dan utama. Tentu kita tetap dapat menggunakan metode yang valid untuk memperoleh informasi, meminta nasihat orang saleh, membuka buku dan internet kita, atau berkonsultasi dengan seorang ahli. Namun kita harus pergi terlebih dahulu kepada sumbernya, yaitu Tuhan sendiri. Hikmat Tuhan relevan dan praktis, Ia akan memberikan kita tuntunan yang paling tepat dalam situasi-situasi sulit dan mendesak. Karena itu, mari jadikan pembelajaran firman Tuhan dan hubungan dengan-Nya sebagai investasi kita yang utama. [LS]