Ketika kita menjalani hidup dalam lingkaran kegiatan sehari-hari, mudah untuk berpikir bahwa kita sudah cukup hebat. Kita seperti memerintah "kerajaan" kita sendiri, dan tidak jarang kita berpikir lebih tinggi daripada yang patut kita pikirkan. Setiap tanda centang dalam "to do list" kita membuat kita merasa berhasil, beberapa orang bahkan memandang rendah orang lainnya. Manusia membanggakan penemuan, teori, dan juga sistem mereka. Tetapi dalam semuanya itu, kita sering lupa bahwa kita adalah debu. Manusia cepat lupa, sehingga butuh untuk diingatkan.
Mazmur Daud mengingatkan bahwa seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa, seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan, sekalipun kuda memiliki ketangkasan, ia tak dapat memberi keluputan. Mazmur ini menunjukkan bahwa kita adalah makhluk yang penuh ketergantungan. Jika saat ini kita merasa memiliki kekuasaan, kemampuan, keahlian, jabatan, dan juga rekan-rekan yang berpengaruh; tidak perlu sesumbar, itu bukanlah hal yang harus dibesar-besarkan. Tuhan bisa memilih orang yang dianggap dunia bodoh untuk mempermalukan orang yang berhikmat. Tuhan bisa memilih apa yang lemah menurut dunia untuk mempermalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang, tidak berarti, dan hina bagi dunia dapat dipilih-Nya untuk meniadakan apa yang berarti (1 Korintus 1:27-29). Oleh karena itu, jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan dirinya. Allah dan alam raya ciptaan-Nya telah menunjukkan siapa kita, dan melalui kepintaran kita sebagai makhluk ciptaan, kita menjadi apa yang kita inginkan. Biarlah Allah dan semesta menjadi batas kita. Jangan hanya berkutat dengan kesibukan Anda. Sesekali, cobalah pergi ke tempat wisata alam seperti pegunungan, lautan, padang pasir, danau, dan lainnya. Alam semesta adalah tempat yang sempurna untuk melihat dan merenungkan betapa kecilnya kita manusia di hadapan Sang Pencipta. [LS]