Setiap orang pasti memiliki sesuatu yang dianggap berharga bagi dirinya. Sesuatu itu bisa berupa harta benda, status sosial, pelayanan, anggota keluarga, hewan peliharaan, prestasi, kesehatan atau bahkan dirinya sendiri. Cara setiap orang menentukan apa yang berharga dalam hidupnya bergantung pada berbagai faktor. Bagi sebagian orang, semakin besar usaha dan kerja keras yang telah dikerahkan untuk mendapatkannya, maka semakin berhargalah hal tersebut. Bagi sebagian orang lainnya, bisa jadi dangkal dan dalamnya ikatan emosional yang terbentuk yang akan jadi faktor penentu. Apapun alasan dibaliknya, apa yang berharga bagi kita pasti akan kita genggam erat, sedemikian eratnya hingga tidak akan pernah kita lepas. Bahkan ketika Tuhan ingin mengambil hal itu dari kita, respon kita bisa jadi berkeras menolak.
Abraham telah menunggu kehadiran anak untuk waktu yang lama. Ketika akhirnya Tuhan menganugerahkan Ishak kepada Abraham, sudah sewajarnya Abraham memandang Ishak teramat berharga dalam hidupnya. Namun ujian sebenarnya datang ketika Tuhan meminta Abraham untuk mengorbankan Ishak. Pengorbanan adalah bukti konkrit dari kasih, tidak ada kasih tanpa pengorbanan. Seberapa besar keberanian seseorang untuk mengorbankan sesuatu yang berharga baginya melambangkan seberapa besar kasihnya. Ishak sangat berharga bagi Abraham dan Abraham sangat mengasihi Allah Bapa, pastinya bukan pergumulan yang mudah. Tetapi seperti yang tertulis di Alkitab, Abraham menuruti permintaan Tuhan hingga akhirnya Tuhan menghentikannya di saat-saat terakhir. Abraham berhasil melewati ujian dan membuktikan bahwa Tuhanlah yang paling berharga dalam hidupnya. Abraham menggenggam Ishak dengan penuh kasih, tapi ketika ia diminta melonggarkan genggamannya, ia menyodorkan anaknya kepada Tuhan. Segala yang ada dalam genggaman kita saat ini adalah titipan Tuhan, syukuri semua itu dan genggam sewajarnya. Jangan genggam terlalu erat, karena semua titipan bisa diambil kembali kapan pun Ia mau. [EV]