Kesedihan bisa menimpa siapa pun. Emosi ini muncul saat ada hal yang tak sesuai keinginan, diperhadapkan masalah berat dan tak bisa diatasi, kegagalan, kehilangan orang yang dicintai, dan berbagai hal lainnya. Banyak dari kita kurang cakap dalam menghadapi kesedihan, bahkan menyangkal perasaan sedih itu sendiri. Kita bisa belajar dari Tuhan Yesus. Hal yang Yesus lakukan sangatlah realistis. Saat mengalami masa terpedih dalam hidup-Nya, Ia menghabiskan malam terakhir-Nya di Taman Getsemani. Di sana Yesus berdoa sampai tiga kali dengan segala kerendahan hati. Alkitab juga mencatat bagaimana Yesus berbagi beban dan pergumulan-Nya kepada tiga murid terdekat-Nya. Yesus menyatakan sangat takut dan gentar, "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya." Tanpa rasa malu Yesus mengungkap perasaan-Nya dengan mengajak mereka duduk bersama-Nya, sementara Ia berdoa. Yesus tidak menutupi kesedihan-Nya, Ia tidak berlaku seakan seperti seorang manusia super rohani yang tanpa perasaan. Dalam doa-Nya Ia pun secara jujur menuturkan gejolak perasaan yang tengah dialami. Yesus bahkan merebahkan diri ke tanah sambil berdoa. Saat Yesus telah selesai dengan perasaan sedih-Nya, akhirnya Ia dengan mantap menghadapi beban berat yang akan dipikul-Nya serta kematian-Nya.
Jika saat ini Anda sedang bersedih, akuilah. Bila semua kesedihan dipendam, hanya tinggal menunggu waktu hal itu bisa meledak kapan saja. Tak hanya menghancurkan diri sendiri, tetapi juga menghancurkan sesama kita. Penyangkalan terhadap kesedihan hanya akan merugikan fisik dan mental. Sebagaimana Yesus dalam doa-Nya memaparkan kesedihan-Nya begitu rupa, mari sujudlah di altar Tuhan. Akui secara jujur bagaimana hati Anda begitu bersedih, terbukalah dengan segala keberadaan Anda. Yakini bahwa Tuhan akan membaharui hati kita dan mencurahkan anugerah-Nya. Bila memungkinkan berbagilah kesedihan kepada orang terdekat yang Anda percayai. Dengan demikianlah kita siap menghadapi beban hidup selanjutnya. [RS]