Di dunia kita saat ini, advertensi palsu sudah menjadi hal yang umum. Banyak iklan mengandung kebohongan dan kenyataannya tidak ada orang yang suka dibohongi. Kita semua berharap apa yang diiklankan seharusnya memberi petunjuk dan informasi akurat tentang apa yang benar-benar dapat kita peroleh. Sayangnya jika kita konjungsikan realita ini dengan diri kita, sebenarnya kita juga sering menampilkan advertensi palsu pada orang lain. Banyak dari kita yang bergulat dengan otentisitas diri karena takut menghadapi penolakan. Sederhana saja, kita ingin dunia menerima bahkan mengagumi kita. Kita benci pada kelemahan-kelemahan kita dan berusaha menutupinya sehingga kita bekerja keras menampilkan sisi yang dunia sukai.
Firman Tuhan hari ini justru mengajarkan kepada kita tentang pentingnya menjadi otentik. Bagi orang percaya, menjadi otentik bukanlah sekedar melepas topeng dan menjalani hidup apa adanya. Otentisitas adalah komponen penting dalam menjalani hidup berdasarkan pemahaman untuk siapa kita diciptakan. Orang percaya dipanggil untuk menanggalkan manusia lama dengan pola kehidupan lama, yang dirusak oleh keinginan-keinginan yang menyesatkan, dan hidup sebagai manusia baru yang diciptakan menurut pola Allah, yaitu dengan tabiat yang benar, lurus, dan suci. Jadi otentisitas diri orang percaya, baik secara pribadi maupun publik adalah menanggalkan diri yang lama dan dengan kasih karunia Allah hidup dengan tabiat yang benar, lurus, dan suci. Kata "suci" dalam ayat hafalan kita berasal dari bahasa Yunani "katharos", yang berarti bebas dari setiap campuran yang palsu, tulus, dan juga murni. Mengenai hal ini, Tuhan pernah memberitahu Samuel bahwa Ia tidak menilai seperti manusia menilai. Secara penglihatan manusia, Eliab, Abinadab, Syama, dan anak-anak Isai lainnya lebih pantas menjadi raja. Tapi Tuhan memilih Daud yang kemerah-merahan dan biasa menggembalakan kambing domba. Walaupun Daud jauh dari kata sempurna, Tuhan memilih Daud karena Daud otentik dan miskin di hadapan Allah. Sehingga dengan begitu kuasa Allah dapat bekerja melalui Daud. Paulus yang otentik pun mengatakan, "Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah." (1 Korintus 2:3-5). Demikianlah orang yang otentik, mereka tak lagi berminat untuk menampilkan yang palsu supaya diterima manusia sebab aspek batiniahnya sesuai dengan aspek lahiriahnya. Jangan lagi menampilkan advertensi palsu, jadilah orang yang otentik, berdamailah dengan ketidakberdayaan Anda. Berbahagialah orang yang merasa tidak berdaya dan hanya bergantung pada Tuhan saja; mereka adalah anggota umat Allah! (Matius 5:3 BIMK). [LS]