Seekor ular masuk ke gudang. Saat merayap tanpa sengaja ular itu menyenggol sebuah gergaji dan sedikit melukainya, mengakibatkan ular itu berbalik dan menggigit gergaji tersebut, yang justru menyebabkan mulutnya juga terluka. Merasa bahwa gergaji itu akan menyerangnya, ular itu lalu melilit gergaji, dan semakin kuat ia melilit semakin ia terluka parah, hingga akhirnya ular itu pun mati.
Hal-hal yang menyakiti hati kita ibarat gergaji, yang bila terus kita balas justru hanya akan melukai diri kita sendiri. Itulah sebabnya kita tidak boleh menyimpan sakit hati. Menyimpan sakit hati akan membuat kita meluapkan amarah dengan cara yang salah, seperti dengan cara membalas orang yang menyakiti kita. Saat kita berpikir untuk membalas orang yang telah menyakiti kita, sebenarnya kita sedang menyakiti diri kita sendiri. Ketika terus mempertahankan kepahitan, perlahan tapi pasti sakit hati akan mematikan kita. Karena "Sesungguhnya, orang bodoh dibunuh oleh sakit hati, dan orang bebal dimatikan oleh iri hati." Satu kunci yang dijanjikan oleh kebenaran firman Tuhan agar kita tidak terbelenggu oleh kepahitan yaitu senantiasa hidup dalam kasih karunia Allah. "Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." Kita membutuhkan kasih karunia Kristus, sebab jika dengan kemampuan sendiri pastilah kita tidak sanggup. Hanya dengan kasih karunia-Nyalah maka kita bisa mematikan diri dan ego untuk tidak membalas hal-hal yang menyakitkan diri kita. Karena itu, hiduplah dalam kasih karunia Allah dengan menjaga hubungan yang tetap melekat kepada Kristus, berdisiplin membaca firman-Nya dan berjalan seturut dengan kebenaran-Nya. Jika ada hal yang melukai hati kita, entah melalui ucapan atau perbuatan seseorang, selesaikanlah dengan hati yang lapang dan kepala dingin. Tidak semua hal perlu ditanggapi. Sebaliknya, seperti Kristus, marilah kita belajar bersabar untuk tidak membalas. [RS]