Pada dasarnya manusia diciptakan dengan akal pikiran, sehingga manusia pada dasarnya adalah makhluk yang bersifat logis. Untuk melakukan atau mempercayai sesuatu, manusia terlebih dahulu harus dapat menerimanya dengan akal pikirannya. Lalu apa yang menjembatani pikiran logis manusia dengan Tuhan yang adikodrati (melebihi atau di luar kodrat alam)?
Tomas tidak mempercayai cerita teman-temannya, bahwa Yesus yang mati di salib telah bangkit dari kematian dan menampakkan diri pada mereka. Tomas berkata bahwa ia baru akan percaya jika ia sendiri melihat bekas paku pada tangan Yesus dan mencucukkan jarinya pada tangan dan lambung Yesus yang berlubang. Respon Tomas merupakan respon manusia pada umumnya. Seandainya kita berada di posisi Tomas, dapatkah kita membayangkan respon kita pada saat itu? Di saat seperti inilah, iman bekerja, karena iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1). Dengan iman kita bisa melihat bahwa janji Tuhan nyata dalam kehidupan kita. Kita tidak dapat melihat Tuhan dengan mata fisik kita, tetapi dengan iman, kehadiran-Nya dalam hidup kita terlihat jelas dan dapat diterima oleh logika. Jejak kaki Tuhan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, dan kita dapat melihatnya jika kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara spiritual setiap hari. Melalui hubungan yang erat, akan lebih mudah bagi kita untuk melihat apa yang Tuhan lakukan bagi kita. Tuhan menyediakan apa yang kita butuhkan baik itu sandang, pangan, dan papan. Tuhan menjaga kita setiap hari, Tuhan menjawab doa-doa kita, dan yang paling utama, Tuhan memberikan keselamatan dan hidup yang kekal. Semakin dekat kita kepada Tuhan, semakin iman kita bertumbuh dan semakin jelas kita dapat melihat Tuhan. [JK]