Kesehatan fisik sama pentingnya dengan kesehatan jiwa. Ada begitu banyak cara yang kita upayakan demi menjaga kesehatan tubuh, mulai dari menjaga pola makan dan istirahat, rutin berolahraga, dan sebagainya. Namun tak sedikit yang abai dengan kesehatan jiwa. Tekanan karena persoalan dan masalah yang membebani pikiran, kerap membuat jiwa seseorang terganggu, hingga sulit bersukacita. Jiwa yang tidak sehat biasanya ditandai dengan emosi yang tidak stabil dan terkontrol, mudah marah dan depresi, tidak memiliki hubungan yang baik dan mendalam dengan orang lain, tidak cakap mengatasi persoalan, egois, pendendam, selalu berpikir negatif, dan sebagainya. Pada dasarnya kesehatan jiwa sangat penting karena jiwa merupakan bagian integral dari kesehatan. Jiwa yang tidak sehat akan mempengaruhi kualitas hidup kita, mulai dari kesehatan hingga relasi kita.
Dalam suratnya kepada Gayus, Rasul Yohanes menuliskan semoga ia baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu sama seperti jiwanya baik-baik saja. Di sini Rasul Yohanes beberapa kali menekankan bahwa jiwa Gayus baik-baik saja karena ia hidup dalam kebenaran. Di saat beberapa saudara datang dan memberi kesaksian tentang keberadaan Gayus, ia memang hidup dalam kebenaran. Ini menjadi landasan hidup kita sebagai orang percaya. Untuk memiliki jiwa yang sehat, maka kuncinya adalah hidup dalam kebenaran. Hidup dalam kebenaran akan menuntun kita pada jalan damai sejahtera. Kendati goncangan hidup ingin menghancurkan, tetapi kebenaran-Nya akan menguatkan, menenangkan dan menghibur jiwa kita. Ketika kita merasa lesu, titah-titah-Nya, menghidupkan kita. Seperti yang dialami oleh pemazmur tatkala jiwanya begitu terhimpit, menghidupi kebenaran membuatnya bisa bersyukur lagi. "Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (Mazmur 43:5). Jadilah penurut-penurut Allah yang menghidupi kebenaran dengan memiliki kedisiplinan rohani membaca, merenungkan, dan melakukan firman-Nya. Niscaya, jiwa kita tetap terpelihara. [RS]