Pernahkah Anda melihat tanah liat sebelum menjadi tembikar? Tanah liat adalah bahan bersahaja. Di tangan seorang pembuat tembikar, tanah liat menjadi awal dari sesuatu yang indah. Pembuat tembikar memiliki kuasa atas tanah liat dan kekuasaan itu tidak terbatas. Tanah liat tidak bernyawa, tidak berdaya, dan juga tidak dapat mempertanyakan haknya. Tidak ada tanah liat yang dapat menolak keinginan pembuat tembikar, atau mengubah rencananya. Roma 9:21 FAYH menuliskan, "Bukankah dari segumpal tanah liat yang sama seorang penjunan berhak membuat sebuah jambangan yang indah untuk tempat bunga, dan sebuah bejana untuk tempat sampah?"
Hubungan antara pembuat tembikar dan tanah liat ini menyerupai hubungan kita dengan Tuhan. Dalam Yeremia 18, Tuhan menggunakan perumpamaan pembuat tembikar dan tanah liat ini untuk memperingatkan umat Tuhan yang hidup dalam ketidaktaatan kepada Tuhan. Yeremia melihat tanah liat itu dibentuk dan dicetak menjadi sebuah bejana. Kemudian karena beberapa ketidaksempurnaan, pembuat tembikar menghancurkannya, dan memulai lagi proses pembentukannya hingga menjadi bejana yang indah. Dengan mengamati proses ini, Yeremia belajar bahwa manusia bagaikan tanah liat di tangan Tuhan yang memiliki hak berdaulat untuk merancangkan apa yang Ia inginkan. Jika ada sesuatu yang merusak rancangannya, Ia akan membentuk kita kembali menurut apa yang baik pada pemandangan-Nya. Begitulah kita di tangan Tuhan. Ketika kita berserah pada pimpinan Tuhan, Ia memberikan nilai dan tujuan bagi hidup kita, sama seperti seorang pembuat tembikar yang memberikan nilai dan tujuan pada tanah liat yang ia bentuk. Tuhan akan membentuk dan terus membentuk kita sehingga kita menjadi sebuah bejana yang indah di mata-Nya, yang dapat digunakan bagi kemuliaan nama-Nya. Perlahan tapi pasti, Tuhan mulai bekerja pada diri kita masing-masing sehingga kita dibentuk untuk tujuan yang Tuhan tetapkan, yang sesuai dengan rancangan-Nya, dan untuk memuliakan nama-Nya. Tuhan akan melakukan apapun yang diperlukan untuk membentuk kita, bahkan jika itu menyakitkan. Tuhan terlalu mengasihi kita untuk membiarkan kita keluar dari rencana yang telah Ia tetapkan. Tuhan sedang membentuk, membentuk dan membentuk kita saat ini dan Ia akan tetap melakukannya, karena seperti yang tertulis dalam Filipi 1:6, "Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus." [EH]