Kamus Merriam-Webster mendefinisikan social climber atau pemanjat sosial sebagai orang-orang yang mencoba untuk mendapatkan posisi sosial yang lebih tinggi, termasuk untuk penerimaan dalam masyarakat modis. Karakter utama dari pemanjat sosial dapat dengan mudah kita temukan melalui media sosial. Misalnya saja, seseorang yang selalu berusaha mengunggah aktivitas, tulisan, dan foto dengan karakteristik tertentu di media sosial dengan tujuan mencitrakan diri sebagai orang dengan status sosial tertentu. Perilaku panjat sosial dapat menjadi benih penyakit sosial yang menular, dimana orang-orang hanya akan meletakan fokusnya pada unsur-unsur materialis.
Professor Harvard Juliet B. Schor di dalam bukunya yang berjudul The Overspent American mengatakan bahwa kebanyakan orang prihatin dengan status sosial, tetapi mereka hidup dalam penyangkalan. Misalnya, jika kita ingin menjadi salah satu anggota kelompok bergengsi, kita harus membayar harga yang lebih mahal daripada yang terlihat; jika kita ingin mendaki secara sosial, kita lebih sering harus turun secara spiritual. Renungkanlah ini, kita mati-matian mengeluarkan uang supaya diterima kelompok tertentu, kita bahkan mengorbankan nilai-nilai kekristenan yang kita pegang ketika kita ingin diakui dalam suatu kelompok sosial. Begitulah label harga diri yang diberikan dunia dan penerimaan masyarakat yang selalu mengandung syarat. Salah satu hikmat Salomo yang berkaitan dengan fenomena social climber ada dalam bacaan Alkitab hari ini. Salomo justru memperingatkan kita dengan sederet nasihat untuk berhati-hati ketika duduk makan dengan seorang pembesar. Panjat sosial hanya akan menyusahkan dan melelahkan diri sebab itu membuat hidup dalam penyangkalan. Tidak perlu menipu diri, cukupkan diri, lakukan aktivitas media sosial secukupnya dan hiduplah dengan damai. Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin. Ingat, keberhargaan diri kita sebagai anak Allah tidak ditentukan oleh apa yang kita upload di media sosial. [LS]