KBBI mengartikan licik sebagai akal yang buruk, pandai curang, dan licin. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering menemukan praktik kelicikan. Mulai dari hal-hal yang tampaknya sepele sampai dalam skop besar. Praktik yang paling mungkin adalah dengan mengambil kesempatan dalam kesempitan atas hak-hak kita. Sebagai contoh, setiap pekerja kantoran akan mendapatkan hak atas fasilitas untuk menunjang pekerjaannya, seperti komputer/laptop, alat tulis kantor (ATK), pengembalian (reimbursement), dan lain sebagainya. Jika ditanya, kita pasti dapat dengan mudah menyebutkan praktik kelicikan yang mungkin timbul darinya. Firman Tuhan sendiri mengatakan bahwa manusia berdosa memang memiliki hati yang licik, "Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu" (Yeremia 17:9).
Saat ini juga, mari periksa hati kita. Kita bisa belajar dari hubungan Yakub dan Laban yang diwarnai banyak intrik. Yakub yang cerdik saat menukar hak kesulungan kakaknya, Esau, harus menerima dicurangi berkali-kali oleh mertuanya, Laban. Firman Tuhan menyatakan, "Orang yang menabur kecurangan akan menuai bencana" (Amsal 22:8). Dengan berbagai tipu daya dan kelicikan, kita mungkin bisa membodohi publik, kita bisa melakukan penipuan dengan halus, kita bisa menyembunyikan kekejaman kecil kita, tapi kita tidak pernah bisa curangi Tuhan. Sebab Ia yang mengagalkan rancangan orang cerdik. Dengan fakta ini, kita seharusnya sadar bahwa perilaku yang licik pada akhirnya akan membawa kita pada kehancuran. Oleh karena itu, kita perlu menundukkan diri dan menyerahkan hati kita pada kebenaran firman Tuhan. Biasakan diri untuk menyelidiki hati. Kita harus terus berjuang dalam proses pemurnian hati dengan cara lebih memilih mentaati Roh daripada keinginan hati yang licik. [LS]