Setiap manusia pernah mengalami kekhawatiran. Entah itu tentang masa depan, keluarga, jodoh, dan berbagai hal lainnya. Tapi tahukah Anda bahwa firman Tuhan secara tegas melarang kita untuk khawatir. Dalam bacaan Alkitab hari ini, kata "khawatir" adalah terjemahan dari kata "amerimnos" dengan bentuk negatif "merimna" yang berasal dari kata kerja "merizoÃŒ„" yang artinya membagi, membelah atau memecah. Jadi, orang yang khawatir adalah orang yang pikiran atau perhatiannya terbelah menjadi dua atau lebih, dan tidak memiliki fokus pada satu hal. Kita jadi mengerti bahwa ketika seseorang memiliki banyak hal yang ia pikirkan, maka semakin besar kemungkinannya mengalami kekhawatiran.
Rasul Paulus mengatakan, "Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran." Di sini Rasul Paulus sedang menekankan agar pikiran dan perhatian utama kita tidak terbelah, sebaliknya tetap fokus kepada Allah. Rasul Paulus menyadari kenyataan bahwa ada banyak hal yang menuntut perhatian kita, baik itu pasangan, orang tua, anak, dan sebagainya. Kita juga tentu memiliki masalah hidup, kita memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi, tanggung jawab pekerjaan, hubungan dengan orang lain, dan lain sebagainya. Namun hal-hal tersebut bukan merupakan fokus atau tujuan utama kehidupan kita. Sebab itu Rasul Paulus menganjurkan kita untuk bersikap seolah-olah tidak disibuki oleh hal-hal dunia agar pikiran kita tidak terbelah-belah dan hidup tanpa kekhawatiran, melainkan fokus pada hal-hal yang kekal. Di tengah banyaknya perkara yang menuntut perhatian kita, mari fokuslah pada kebutuhan utama kita sebagai orang percaya, yaitu Kristus. Bawalah hidup kita, keluarga kita untuk bersama-sama memikirkan kekekalan, serta memusatkan perhatian pada kekekalan tersebut. Dalam keadaan senang maupun susah, jangan biarkan hal-hal duniawi menghambat, sehingga menyebabkan kita khawatir dan salah fokus. Ingat, kekhawatiran tak dapat menguasai seseorang jika dalam segala hal yang dialaminya ia tetap berfokus kepada Tuhan. [MS, RS, LS]