Karena begitu sering dialami oleh banyak orang, istilah "ngaret" atau terlambat menjadi sebuah budaya sebagian dari masyarakat Indonesia. Berbeda dengan negara-negara maju yang menganggap bahwa waktu adalah sebuah komoditas yang berharga. Bahkan sebagian negara memiliki mentalitas bahwa mereka tidak dapat mentoleransi keterlambatan.
Alkitab tidak secara spesifik melarang kita terlambat. Namun prinsip-prinsip Alkitab banyak menunjukkan kepada kita tentang pentingnya menghargai waktu. Di dunia yang begerak begitu cepat, kita tidak mau menghabiskan waktu menunggu mereka yang terlambat dan tidak menghargai waktu. Ketidakdisiplinan waktu menghambat kemajuan. Jika seseorang datang terlambat untuk wawancara kerja, ia kemungkinan besar tidak akan mendapatkan pekerjaan itu sejak awal. Tidak disiplin waktu merugikan diri sendiri di semua bidang kehidupan. Kita akan kehilangan kesempatan, melewatkan bagian penting dari suatu proses, mengakibatkan rasa malu dan tidak jarang memaksa kita untuk berbohong karena kita harus mencari alasan mengapa kita terlambat. Ketika kita sering terlambat, sebenarnya kita juga merugikan orang lain. Kita membuat orang lain mengorbankan waktunya hanya untuk menunggu, bahkan memicu kekesalan atau amarah orang lain. Jadi baik disadari atau tidak, keterlambatan dapat membawa seseorang kepada dosa. Namun sebaliknya, ketika kita tepat waktu, tindakan tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap orang lain. Apabila kita diundang seseorang yang kita anggap penting dan berharga, tidak mungkin kita datang terlambat. Pasti kita mempersiapkan diri lebih awal. Pendekatan inilah yang harus kita lakukan kepada semua orang tanpa terkecuali. Tepat waktu merupakan tindakan yang mungkin terlihat kecil, namun berdampak besar. Pengkotbah 7:1a berkata bahwa nama yang harum lebih baik dari pada minyak yang mahal. Menjadi seseorang yang tepat waktu adalah bagian dari menjaga nama baik kita. Tentunya kita tidak ingin dikenal sebagai pribadi yang tidak disiplin apalagi merugikan orang lain bukan? Biarlah hidup kita tidak memicu dosa dalam diri orang lain, tetapi justru membawa berkat bagi orang lain melalui gaya hidup kita. Mari mulai ubah kebiasaan kita perlahan-lahan untuk mengatur waktu lebih baik lagi. Sehingga, bukan hanya nama baik yang kita jaga, tapi Tuhan pun akan dipermuliakan lewat tindakan kita. [KH, EH]