Richard Carlson dalam bukunya pernah berkata, "Semakin Anda sering mempersoalkan atau membesar-besarkan setiap masalah yang ada, hidup Anda akan terasa penuh dengan beban masalah." Faktanya, masalah tidak menjadi lebih baik dengan kita membesar-besarkannya. Sungguh tak ada gunanya membesar-besarkan masalah.
Elia sebagai seorang nabi pernah terjebak dalam kondisi demikian. Saat itu ia sedang berada dalam masalah ketakutan karena ancaman Izebel yang hendak membunuhnya. Elia pun melarikan diri. Dalam pelariannya tersebut, ia terjebak dalam situasi mengasihani diri. Dia berkata bahwa orang Israel telah meninggalkan perjanjian Tuhan dan hanya dia seorang dirilah yang masih hidup, dan mereka ingin mencabut nyawanya. (1 Raja-Raja 19:14). Faktanya tidak semua orang menentang Elia, hanya Izebel yang menentang dengan ancamannya, dan sebenarnya ia bukan satu-satunya orang yang tetap setia pada Tuhan, masih ada tujuh ribu orang lainnya yang tidak terlibat melakukan penyembahan kepada Baal (1 Raja-Raja 19:18). Elia telah membesar-besarkan masalahnya, dan ini tentu semakin membuatnya tertekan. Namun saat Elia sendiri dan telah diberi makan secukupnya oleh malaikat Tuhan, maka Tuhan hadir dalam bunyi angin sepoi-sepoi basa, dalam situasi yang tenang. Di sanalah Tuhan berfirman dan menyatakan hal-hal yang harus dilakukan oleh Elia untuk melanjutkan kehidupan dan pelayanannya. Dalam menghadapi permasalahan kehidupan ini, setiap kita bisa saja bertindak serupa dengan Elia. Kita menganggap masalah kita begitu besar dari yang sebenarnya, sehingga segala sesuatunya tampak begitu buruk. Kita pun terjebak dalam rasa mengasihani diri sendiri. Padahal jika saja kita tenang sejenak dan berpikir secara jernih, maka setiap masalah pasti bisa diselesaikan bersama Tuhan. Apakah selama ini Anda suka membesar-besarkan suatu masalah. Adakah sesuatu yang baik dari tindakan itu? Mulai hari ini mari evaluasi setiap masalah dengan pikiran yang realistis, lalu mintalah ketenangan, pertolongan, serta hikmat dari Tuhan agar kita bisa menyelesaikannya dengan baik, setahap demi setahap. Saat tenang maka kita bisa berdoa dan meminta hikmat dari Tuhan. Bagaimanapun juga Tuhan mengarahkan kita untuk selalu meminta hikmat-Nya. Dengan hikmat Tuhanlah maka kita cakap menyelesaikan masalah dengan baik. [RS]