Dengan terjadinya akselerasi dalam perkembangan zaman, perubahan manusia yang semakin individualis begitu ekstrim. Belum lagi pandemi COVID-19 menjadi sebuah pemicu besar masyarakat yang semakin apatis. Salah satu profesor psikologi bernama Tom Oliver mengatakan di dalam bukunya yang berjudul The Self Delusion, bahwa manusia individualis ternyata dapat bersifat destruktif terhadap dirinya dan sekelilingnya. Seseorang yang individualis dapat menutup telinga terhadap masukan dan terkonformasi oleh pikirannya sendiri, menganggap dirinya paling benar.
Sebagai anak Tuhan, kita harus berhati-hati agar kita tidak menjadi orang yang individualis. Sikap individualis dapat membuat kita sulit untuk menjadi berkat bagi sesama. Hal yang tidak kalah penting adalah kita berpotensi menjadi orang yang antikritik, sulit menerima masukan dari orang lain. Ketika kita memutuskan untuk mengikuti pikiran kita sendiri, lama kelamaan hidup kita akan mengalami stagnasi. Seorang murid Kristus tidak dapat bertumbuh sendiri. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Jika kita melihat ke dalam Alkitab, kehidupan yang berdampak ternyata tak lepas dari dukungan orang lain. Sebagai contoh, gereja mula-mula yang bersekutu setiap saat, Yesus bersama murid-murid-Nya, serta Paulus yang menjadi mentor bagi murid rohani dan jemaatnya. Melalui contoh-contoh dari Alkitab, kita mendapatkan sebuah pelajaran bahwa melalui sebuah relasi dan persekutuan, hidup seseorang dapat memberi dampak yang luas. Jika selama ini kita tergolong individualis, kita harus mulai memberi ruang agar orang lain dapat terlibat di dalam hidup kita. Bukan hanya untuk menerima sesuatu, tetapi saling menjadi berkat satu dengan yang lain. Jangan biarkan Anda tertipu oleh pikiran Anda sendiri. Teruslah bertumbuh bersama orang-orang yang Tuhan tempatkan dalam hidup Anda. [KH]