Anda pasti pernah mendengar pernyataan, "Pria tidak boleh menangis", "Cowok tidak perlu pakai skin care", atau "Kok laki-laki tidak ada ototnya?" Tahukah Anda, kalimat-kalimat demikian adalah contoh dari toxic masculinity. Secara sederhana, toxic masculinity merupakan deskripsi sempit mengenai kejantanan. Lingkungan kita mendeskripsikan maskulinitas menjadi kondisi dimana seorang pria harus menunjukkan dominasi, berpenampilan macho, kuat, tidak memperlihatkan kesedihan, mengagungkan tindakan berisiko, dan anti melakukan aktivitas yang dianggap milik perempuan seperti memasak, menyapu, berkebun, hingga mengasuh anak. Yang lebih buruk, jika seseorang tidak mampu menunjukkan maskulinitas yang sedemikian rupa, akan ada efek samping seperti penumpukan emosi dan trauma psikologis karena perundungan. Misalnya saja anak laki-laki yang tidak kuat mengangkat meja, ia bisa menjadi bahan ejekan teman-temannya. Tidak hanya itu, American Foundation for Suicide Prevention mencatat bahwa laki-laki cenderung tidak meminta pertolongan kepada keluarga, teman, atau lembaga yang ada, dan ini berpotensi pada bunuh diri.
Hari ini mari kita ubah stigma tersebut. Tuhan Yesus, semasa hidupnya bukanlah orang yang anti meluapkan perasaan. Alkitab mencatat air mata Yesus. Salah satunya ketika malam sebelum penyaliban. Ia juga menceritakan kesedihannya kepada Petrus dan kedua anak Zebedeus. Yesus berkata hatinya sangat sedih, rasanya seperti mau mati. Yesus juga meminta mereka untuk tinggal dan berjaga-jaga bersama-Nya. Sebagai 100% manusia, mengekspresikan kesedihan adalah hal yang lumrah. Merasa rentan dan mencari bantuan bukanlah hal yang memalukan. Selain itu, pahamilah bahwa Tuhan menciptakan kita dengan keunikan yang berbeda satu sama lain. Ada orang-orang yang mungkin tidak manly secara fisik, mungkin tidak terlalu tinggi, memiliki suara yang tidak terlalu berat, dan melankolis. Dengan mengetahui fakta ini, sebaiknya kita menghargai sesama dan menjadi sosok lelaki maskulin yang sehat dan positif. Tolak ukurnya adalah firman Tuhan. Tidak ada yang Tuhan tuntut dari pada kita selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah (Mikha 6:8). Jangan sampai kita menjadi korban toxic masculinity karena cara pandang yang salah tentang maskulinitas, dan berhentilah memojokkan seorang pria hanya karena ia tidak memiliki sixpacks, memakai skin care, atau hobi memasak. [LS]