Setiap kita pasti dikaruniai kelebihan. Bila tidak bijak dan dilandasi sikap takut akan Tuhan, kelebihan seseorang bisa menjadi jerat baginya. Karena kecantikan atau ketampanan seseorang bisa menjadi sombong. Karena kepintaran, seseorang bisa merasa tak perlu Tuhan dan tidak mementingkan perkara-perkara rohani. Karena kekayaan, seseorang bisa menganggap orang lain tidak penting. Karena jabatan, seseorang bisa menganggap orang lain rendah. Tentu Tuhan tidak mengaruniakan kelebihan untuk hal-hal yang tak berkenan, sebaliknya untuk sesuatu yang berguna.
Bacaan Alkitab kita hari ini mengisahkan Absalom sebagai sosok yang begitu banyak dipuji di seluruh Israel karena ketampanannya. Dikatakan apabila ia mencukur rambutnya, pada akhir tiap-tiap tahun ia mencukurnya karena menjadi terlalu berat baginya, maka ditimbangnya rambutnya itu, dua ratus syikal beratnya, menurut batu timbangan raja (2 Samuel 14:25-26). Namun siapa sangka, bahwa Alkitab juga mencatat perihal kematian Absalom berkaitan dengan rambutnya tersebut. Peristiwa nahas yang menimpanya terjadi saat Absalom menunggangi bagal. Saat bagal itu lewat di bawah jalinan dahan-dahan pohon tarbantin yang besar, kepalanya tersangkut pada pohon, sehingga ia tergantung, sedang bagal yang dikendarainya berlari terus. Hal ini menjadi peluang bagi Yoab dan para pengikutnya untuk membunuh Absalom. Ini cukup membuktikan "senjata" bisa memakan tuannya. Dari kisah ini pula kita belajar satu hal bahwa segala kelebihan dan kebanggaan bukanlah jaminan dalam hidup. Dengan segala kelebihan yang kita banggakan, kita butuh hikmat Tuhan untuk menjadikannya sesuatu yang berguna dan membangun, bukan sebaliknya. Jangan pernah sombong dengan segala yang kita miliki. Sebagai manusia yang juga terbatas, jangan jadikan kelebihan sebagai sarana kemuliaan pribadi kita. Sebaliknya, pergunakanlah dengan bijak setiap kelebihan kita untuk kemuliaan nama Tuhan. [RS]