Pengkhotbah dengan popularitas abadi, F.B. Meyer, pernah mengadakan pertemuan di Northfield, Massachusetts. Banyak orang memadati tempat untuk bisa mendengarkannya. Ketika itu, G. Campbell Morgan, guru Alkitab terkemuka, juga datang ke Northfield, dan banyak orang berbondong-bondong berusaha mendengarkan eksposisinya yang brilian tentang Alkitab. Meyer mengaku pada mulanya ia merasa iri hari kepada Morgan, dan ia berkata, "Satu-satunya cara saya bisa menaklukkan perasaan saya adalah dengan berdoa untuk Morgan setiap hari".
Ketika rasa iri hati melanda, berdoa untuk orang tersebut bukanlah perkara mudah. Kerendahan hati mengambil peran yang begitu besar. Itulah sebabnya renungan kita hari ini menarik satu garis besar bahwa tinggi hati atau kesombongan adalah akar dari kecemburuan. Rasul Paulus menugaskan anggota gereja di Galatia dengan nasihat, "Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing." Kalimat "hendaklah kamu berpikir begitu rupa" mengingatkan kita bahwa seharusnya kita tidak lupa siapa diri kita di dalam Kristus dan janji-janji-Nya. Jika kita bertumpu pada identitas kita di dalam Kristus dan janji-Nya, maka kita dapat terbebas dari kesombongan dan lebih leluasa mengucap syukur kepada Tuhan oleh karena Dia memberikan macam-macam karunia kepada umat-Nya untuk pembangunan tubuh. Seperti Rasul Paulus yang selalu mengucap syukur kepada Tuhan atas anggota gereja dan karunia yang telah Tuhan berikan kepada mereka. Rasul Paulus memikirkan tujuan yang lebih mulia, yaitu dapat melihat setiap orang menghasilkan lebih banyak buah dalam hidup mereka. Seperti F.B. Meyer, ketika kita mulai berdoa dan bersyukur untuk individu yang pernah menjadi sasaran kecemburuan kita, maka kita akan dibebaskan dari ikatan ketamakan, kecemburuan, dan iri hati. [LS]