Dunia mengenal Samsung sebagai brand sekaligus perusahaan pembuat perangkat elektronika terbesar di dunia. Namun pada awalnya Samsung berdiri sebagai supermarket yang khusus menjual mie dan makanan laut. Perusahaan Shell berada di puncak bisnis minyaknya setelah lima puluh tahun sebelumnya menjajaki bisnis toko barang antik dan shell (cangkang kerang). Siapa yang tidak tahu Marriott International sebagai salah satu jaringan hotel terbesar di dunia. Ternyata bisnis ini didirikan oleh sepasang suami istri yang mulanya membuka stand kecil minuman root beer di Washington, D.C.
Memandang kesuksesan seseorang memang begitu indah, tapi mata kita tidak dapat secara kasat melihat bahwa kesuksesan yang luar biasa adalah buah dari proses kerja keras dan kesabaran. Kesuksesan tidak datang sendirinya, beberapa mental yang dibutuhkan dalam proses itu adalah keberanian mengambil risiko, peka terhadap peluang, tidak setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu, memiliki mindset yang positif, dan tidak takut pada kegagalan. Bersyukur Alkitab kita menceritakan dengan lengkap riwayat seseorang yang mewakili kriteria tersebut, namanya Yusuf. Biarpun Yusuf adalah anak kesayangan ayahnya, fakta di Alkitab menuliskan bahwa Yusuf adalah orang yang giat. Sedari muda, ia biasa menggembalakan kambing domba (Kejadian 37:2a). Perjalanannya hingga menjadi Perdana Menteri di Mesir mengalami jatuh bangun. Ia sempat dijual, menjadi budak, mengalami fitnah, bahkan menjadi narapidana. Namun lagi-lagi mental yang dimiliki Yusuf menanggalkan segala kegetiran hidupnya. Di mana pun Yusuf berada, ia selalu berhasil menjadi pusat perhatian. Oleh karena itu, "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga" (Pengkhotbah 9:10a). Jangan lupa hal yang tak kalah penting, Yusuf juga mengerjakan setiap bagiannya dengan dasar takut akan Tuhan (Kejadian 39:9). Oleh karena itulah perkenanan dan penyertaan Tuhan senantiasa turun atas setiap hal yang Yusuf kerjakan. Ketika kita mengerjakan bagian kita dengan sekuat tenaga tanpa mengabaikan ketetapan Tuhan, niscaya penyertaan Tuhan juga menjadi bagian kita. Dengan demikian, kesuksesan tidaklah tabu bagi kita semua. Siapa pun bisa menjadi sukses asalkan mau menjalani setiap proses dengan kerja keras dan kesabaran, dengan tetap memperhatikan hukum Allah. [LS]