Di sosial media banyak orang menggunakan hash tag Blessed (#Blessed). Promosi dalam perkerjaan, #Blessed. Keluarga yang luar biasa, #Blessed. Beasiswa perguruan tinggi, #Blessed. Tidak jarang kita mendengar, "Saya sangat diberkati dengan tiga anak yang sehat!" atau "Kami baru saja membeli rumah impian kami. Kami sangat diberkati!" Bagi banyak orang, termasuk kita, hidup yang diberkati identik dengan pernikahan yang penuh kasih, tubuh yang sehat, karir yang sukses, teman-teman yang baik dan dapat dipercaya, kelimpahan finansial, atau berbagai kenyamanan lainnya. Apa yang terjadi jika kita merasa tidak begitu "diberkati" dalam keadaan kita saat ini? Ketika kita berjuang dengan masalah kesehatan, atau saat kita kehilangan setengah dari penghasilan, kehilangan pekerjaan, menghadapi berbagai macam kesulitan? Apakah kita akan mengganti #Blessed dengan #Stressed?
Definisi Yunani dari kata "diberkati" berasal dari kata "makários". Ini menggambarkan kondisi orang percaya yang berada dalam posisi untuk menerima kebaikan Tuhan sebagai perpanjangan kasih karunia-Nya. Definisi utama "blessed" dalam kamus Bahasa Inggris juga bukanlah kekayaan atau kenyamanan, melainkan "menjadi kudus". Kita dikuduskan melalui keselamatan di dalam Yesus Kristus, yang kita dapatkan semata-mata karena kasih karunia Tuhan, bukan karena kita layak mendapatkannya. Ini yang membuat Paulus, walaupun berada di penjara, jauh dari rasa aman dan nyaman, dan menghadapi kemungkinan eksekusi, tetap merasakan berkat Tuhan dan dapat membagikannya melalui surat-suratnya. Berkat keselamatan yang didapatkan karena berada di dalam Tuhan tidak sebanding dengan berkat duniawi yang memiliki tanggal kedaluwarsa, dan bisa lenyap seketika. Kehidupan yang nyaman, pernikahan, kesehatan, anak-anak, semua bisa berubah. Tetapi ketika kita memiliki berkat terbesar, yaitu jaminan keselamatan, hubungan yang dekat dengan Dia, hikmat, kekuatan dan sukacita dalam kehidupan kita, kita benar-benar #Blessed! [EH]