Cukup adalah konsep yang sulit. Cukup bagi seseorang belum tentu cukup bagi orang lain. Ada yang merasa tidak membutuhkan hal-hal materiil terlalu banyak, tapi ada pula yang sangat mendambakannya. Ada yang tidak memperoleh banyak hal namun merasa cukup, ada pula yang hidup berkelimpahan tapi masih terus menginginkan sesuatu lebih banyak lagi, dan akhirnya mereka terjebak dengan meminta kepada Tuhan secara berlebihan. Ibu Yakobus dan Yohanes pernah meminta kepada Yesus agar anak-anaknya kelak dapat duduk di dua posisi terpenting dalam kerajaan Allah. Yesus memberikan jawaban, "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta."
Ya, terkadang kita memang tidak tahu apa yang kita minta kepada Tuhan. Apakah itu benar-benar yang kita perlukan atau apa yang kita minta sebenarnya didasarkan pada keinginan dan pola pikir dunia akan sebuah jabatan, kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran yang lebih di antara orang lainnya. Kita tidak tahu apa yang kita minta, jika permintaan itu hanyalah untuk kemuliaan diri sendiri dan bukannya meminta anugerah untuk dapat mencukupkan diri dalam segala keadaan. Ketika kita memohon suatu hal untuk keuntungan pribadi, hati-hati bila Tuhan menjawab, "Kamu tidak mengerti dengan apa yang kamu minta." Ini adalah pengingat sekaligus teguran. Ketika kita meminta secara berlebihan, kita sedang membuka diri untuk hal-hal yang berakibat buruk dan dapat melukai diri kita sendiri. Terkadang kita meminta suatu hal tertentu secara berlebihan, dan ketika hal itu tidak pernah terjadi, kita mengeluh, kecewa, dan kedagingan mendorong kita untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Ini bahayanya ketika kita tidak memelihara rasa syukur dan tidak melatih pengendalian diri atas sebuah keinginan. Maka dari itu, pernyataan Rasul Paulus perlu menjadi refleksi kita hari ini, "Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan." Rasul Paulus mengatakannya sebab ia telah mengalami pahit manis kehidupan, dan ia menyadari bahwa dalam keadaan apa pun, baik itu lebih mau pun kurang, yang terpenting adalah rasa cukup. Belajar mencukupkan diri juga berarti senantiasa bersyukur dan tidak membiarkan diri dikuasai keinginan (Yakobus 1:14). Kita juga harus belajar menyesuaikan pikiran kita dengan keadaan kita sembari mengambil sisi terbaik darinya. Tanpa mengesampingkan sikap optimis untuk sebuah pencapaian, sikap mencukupkan diri memampukan kita untuk menyesuaikan diri di kala sengsara mau pun sejahtera. [LS]