Ada kebingungan ketika kita menemukan beberapa tokoh Alkitab, bahkan Yesus sendiri menggunakan kata-kata yang keras, bahkan makian. Satu kebenaran yang harus kita pahami bahwa beberapa tokoh menggunakan kata-kata yang keras dan kasar dengan memperhatikan tiga hal, yaitu kasus yang dihadapi, orang yang dihadapi, serta motivasi dan tujuannya. Untuk contoh kasus yang dihadapi, kita bisa melihat Rasul Paulus melakukannya ketika terjadi penyesatan oleh nabi-nabi palsu (Filipi 3:2). Untuk kategori orang yang dihadapi, Yesus melakukannya kepada orang-orang munafik. Ingat ketika Yesus marah besar dan mengobrak-abrik Bait Allah karena banyak orang munafik yang menyengsarakan umat atas nama agama. Dalam bacaan Alkitab hari ini, Yesus berkali-kali mengecam orang Farisi karena kemunafikan mereka. Kemudian untuk menjelaskan motivasi dan tujuan yang benar, kita dapat melihat bahwa tokoh-tokoh Alkitab tersebut melakukannya dengan motivasi kasih dan kebenaran.
William Barclay pernah mengatakan bahwa dalam kehidupan Kristen perlu ada kemarahan, tetapi kemarahan yang benar. Watak buruk dan sifat pemarah tidak dibenarkan dan tidak boleh dipertahankan, tapi ada jenis kemarahan yang diperlukan agar dunia ini tidak menjadi tempat yang lebih buruk. Kita harus benar-benar memahami bahwa amarah yang mementingkan diri sendiri dan tak dapat dikendalikan adalah dosa yang keji, tetapi amarah yang diarahkan pada pelayanan Kristus dan sesama adalah kekuatan yang dibutuhkan dunia yang bobrok ini. Dengan demikian, justru kita tidak bisa mengeluarkan kata-kata keras dengan sembarangan dan seenaknya. Hal ini dikhususkan dalam menilai suatu penyimpangan dan pelanggaran, kita harus tahu benar kasusnya, perhatikan kepada siapa kita mengungkapkan kata-kata yang cukup keras, dan pastikan bahwa kasih dan kebenaran yang menjadi motivasi kita. [LS]