Di sebuah sekolah dasar, seorang wali kelas memberikan tugas untuk membawa kentang sesuai jumlah orang yang tidak disukai tiap-tiap anak. Esok harinya, jumlah kentang yang dibawa setiap anak berbeda-beda. Ada yang hanya membawa satu, tiga, tapi ada juga yang membawa sepuluh. Selama seminggu, mereka terus ditugaskan untuk membawa kentang-kentang tersebut. Tentu saja, setelah seminggu kentang-kentang tersebut membusuk dan berbau sampai-sampai para murid mengeluh dan berniat untuk membuang kentang-kentang busuk tersebut. Sang wali kelas pun menjelaskan dengan bijak bahwa kentang diibaratkan sebagai dendam atau rasa benci, dan iri dengki terhadap orang lain yang terus kita bawa sepanjang hari. Semakin hari, kentang tersebut akan semakin memberatkan langkah kita menjalani hidup dan apabila kita tidak segera membereskannya, kentang-kentang itu akan menjadi busuk dan membawa penyakit bagi kita sendiri.
Hari ini coba renungkan ada berapa banyak kentang-kentang yang telah kita bawa sepanjang hari selama seminggu, setahun, bahkan puluhan tahun lamanya? Berapa banyak kentang-kentang yang membusuk karena kita membiarkannya dan tidak kunjung menyelesaikan segala perasaan dendam, serta iri dengki terhadap beberapa orang yang pernah melukai hati kita? Dan apa saja kerugian yang telah kita biarkan terjadi dalam hidup ini karena menyimpan kentang busuk tersebut? Jangan biarkan dendam dan kebencian membatasi kapasitas diri dan menurunkan kualitas hidup kita. Ingat, Tuhan sendiri sudah mengampuni dan melupakan dosa-dosa kita (Yeremia 31:34). Bahkan saking pentingnya perihal mengampuni sesama, di dalam kitab Matius Yesus mengatakan kita perlu mengampuni sebanyak tujuh puluh kali tujuh kali. Mari ambil keputusan untuk mengampuni dan melupakan sebagaimana Firman Tuhan mengingatkan kita untuk segera membuang kepahitan, kegeraman, dan pertikaian. Segera bersihkan dan jaga hati kita agar selalu terbebas dari kentang-kentang busuk tersebut. [CK]