Dalam bacaan Alkitab hari ini kita membaca bahwa Ananias dan Safira adalah sepasang suami isteri yang mendustai Allah. Mereka tidak jujur dalam hasil penjualan tanah yang mereka miliki. Sebagian hasil penjualan tanah mereka simpan, dan sebagian lagi mereka berikan kepada rasul. Mereka berbohong di hadapan Rasul Petrus dengan menyebutkan bahwa hasil yang diberikan adalah seluruh hasil penjualan tanah. Alkitab mencatat bahwa ketika mereka berbohong, seketika itu juga mereka mati.
Tuhan tidak berkenan atas sikap dusta atau berbohong. Sayangnya, berbohong adalah satu dari sekian banyak pelanggaran yang hampir semua orang pernah bahkan sering lakukan. Ada banyak orang yang menganggap berbohong sebagai hal lumrah, sepele dan kesalahan manusiawi. Padahal Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa berkata bohong atau dusta bukanlah perkara yang dapat ditoleransi dan termasuk dosa. Bahkan dikatakan bahwa Tuhan malu mengakui orang yang berdusta sebagai anak-Nya. Ketika kita berkata dusta, "Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu… sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta." (Yohanes 8:44). Ingat, Tuhan memandang kebohongan sebagai pelanggaran yang serius. Kita perlu berhati-hati dalam menjaga lidah, sebab berbohong atau berdusta adalah dosa yang mengikat. Sekali orang berkata bohong, ia cenderung terbiasa berbohong. Jangan permalukan Bapa kita, dan hendaknya kita menjaga lidah kita dari perkataan-perkataan yang menipu. [LS]