Seringkali kita mendengar bahwa bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Namun kali ini kita akan berbicara bahwa tidak ada yang mustahil bagi orang percaya. Ada begitu banyak tokoh di Alkitab mengalami kehidupan yang tidak biasa. Ada Nuh yang dikenal dengan kisah bahteranya, Daud yang dengan mudahnya mengalahkan Goliat, perempuan yang sembuh setelah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan, dua orang buta di Galilea yang matanya dicelikkan dan banyak lainnya. Kehidupan mereka melampaui batas-batas kemustahilan dan ketidakmungkinan yang selama ini diterima dunia sebagai hal lazim.
Ada satu ciri kesamaan dari mereka yang melampaui setiap keterbatasan, yaitu iman percaya mereka kepada Tuhan. Ketika dua orang buta mengikuti Yesus dan berseru-seru untuk dikasihani oleh-Nya, Yesus bertanya terlebih dahulu, "Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab, "Ya Tuhan, kami percaya" (Matius 9:28). Sama seperti wanita pendarahan yang sebelum menjamah jubah Yesus, dirinya terlebih dahulu dikuasai rasa percaya kepada Yesus. Karena katanya dalam hatinya: "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." Yesus sendiri mengatakan bahwa iman wanita itulah yang telah menyelamatkannya. (Matius 9:21-22). Berbeda dengan kisah ayah dari anak yang kerasukan roh yang membisukan. Kita dapat melihat sedikit keraguan dari perkataan ayah tersebut, "Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami." Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (Markus 9:23). Benarlah bahwa tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya, sebab iman kitalah yang dapat melampaui segala keterbatasan. Semua yang lahir dari Allah dapat mengalahkan dunia. Dengan apa? Iman! Iman yang mengatasi segala keterbatasan adalah iman yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, itu dibuktikan dengan adanya ketaatan dan tindakan. [LS]