Satu kaidah yang tak bisa ditepis untuk menjadi tak terkalahkan adalah fokus, yaitu memusatkan perhatian. Setiap pemenang perlombaan pastilah mereka yang menjaga fokusnya. Paulus menganalogikan hal ini dengan beberapa contoh. Seorang prajurit yang sedang berjuang berfokus dengan tak memusingkan dirinya pada soal-soal penghidupannya, seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara apabila fokus pada peraturan-peraturan olahraga, dan seorang petani berfokus bekerja keras untuk dapat menikmati hasil usahanya. Paulus sendiri pun mempraktikkannya, "Jadi, saya lari menuju sasaran dengan tujuan yang pasti. Saya berjuang untuk menang." (1 Korintus 9:26 FAYH).
Demikian halnya dalam kehidupan, untuk menjadi tak terkalahkan oleh dosa dan masalah hidup kita harus fokus kepada Tuhan. Paulus tahu betul dengan hal ini. Ia adalah orang yang memiliki ketahanan luar biasa terhadap persoalan hidup bahkan maut sekalipun. Meski demikian, tak satu pun dari persoalan itu menghalangi fokusnya kepada tujuan hidupnya sebagai orang yang telah diselamatkan dan kepada kekekalan. "Itu sebabnya saya berlari terus menuju tujuan akhir untuk mendapatkan kemenangan, yaitu hidup di surga; untuk itulah Allah memanggil kita melalui Kristus Yesus. Kita semua yang sudah dewasa secara rohani, haruslah bersikap begitu." (Filipi 3:14-15 BIS). Sebagaimana kita tahu, pada akhirnya Paulus bisa berkata bahwa ia telah mengakhiri pertandingan yang baik, telah mencapai garis akhir, dan telah memelihara iman. (2 Timotius 4:7). Marilah kita mencontoh teladan hidup Paulus. Fokus hidup kita adalah Tuhan dan kekekalan. Mungkin beratnya masalah-masalah yang dihadapi, jerat dosa seringkali menjadi penghalang iman kita. Dari tahun ke tahun, kita terus menghadapi pergumulan yang sama. Jangan biarkan persoalan hidup dan dosa itu mengalihkan fokus kita dari janji-janji Tuhan. Berhentilah merasa terganggu oleh hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan tujuan hidup kita. Sebaliknya, fokuslah hanya kepada Tuhan dan perintah-Nya. [RS]