Masih dalam tema invincible, sebelumnya kita telah belajar bahwa iman kita-lah yang mengalahkan dunia. Namun persoalannya, kesulitan, dan masalah hidup yang dialami seseorang seringkali menjadi umpan bagi munculnya tindakan-tindakan yang negatif, dan menyebabkan orang percaya mengalami kekalahan. Oleh karena itu, kita harus memahami betapa pentingnya resilience atau ketahanan sebagai unsur dari iman itu sendiri.
Dr. Paul G. Stoltz, pencetus AQ (Adversity Quotient) sekaligus CEO PEAK Learning, menjelaskan bahwa resilience dapat menentukan seberapa jauh individu mampu bertahan menghadapi kesulitan dan kemampuan untuk mengatasinya sehingga tidak melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri. Resilience diperoleh melaui pengalaman dan interaksi lingkungan. Alkitab jauh lebih dulu menulis, "The testing of your faith produces patience" (Yakobus 1:3 NKJV). Patience atau kesabaran/ketekunan di sini berasal dari bahasa Yunani hypomone yang artinya kemampuan bertahan pada suatu posisi. Teolog William Barclay mengartikan hypomone sebagai sikap tabah dalam menjalani penderitaan dan berusaha mengubah penderitaan tersebut menjadi hal yang mulia dan luhur. Perhatikanlah doa yang dipanjatkan oleh Rasul Paulus untuk jemaat di Tesalonika dalam 2 Tesalonika 3:5 "Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus." Ini artinya ketika kita menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, sikap bertahan (hypomone) bukan hanya sekedar kebajikan yang patut diperjuangkan setiap orang percaya, melainkan juga respon iman terhadap ketabahan Kristus, bahwa Ia sendiri yang mengaruniakan ketabahan tersebut. Ingatlah bahwa kita menjalani panggilan hidup sebagai murid Kristus, ketika ditempa masalah, jangan lekas gusar dan kecewa. Ketika ditekan kita harus semakin tekun di dalam Dia. Inilah bukti dari iman yang tak terkalahkan. [LS]