Gabriel Marcel, seorang filsuf Kristen di Prancis, pernah berkata bahwa ia tertarik bagaimana pengharapan membuat manusia tidak kehilangan daya juang di tengah situasi yang tidak menguntungkan. Ia menyimpulkan bahwa daya tahan manusia untuk tidak terkalahkan oleh situasi yang sedang terjadi didasari oleh sebuah harapan akan sesuatu yang baik akan terjadi di masa depan. Pengharapan tersebut biasanya dikaitkan oleh sebuah aktivitas, kondisi, ataupun objek: berharap pandemi berakhir, bisnis yang dibangun berhasil, memiliki pernikahan yang bahagia, dan bentuk-bentuk pengharapan lainnya.
Akan tetapi, pengharapan membutuhkan sebuah dasar yang menjadi fondasi. Tanpa sebuah dasar, pengharapan hanyalah sebuah keinginan semata, dan berpotensi mengecewakan ketika tidak terjadi sesuai yang kita harapkan. Menjadikan sesuatu sebagai sebuah dasar berarti menjadikannya sebagai tolak ukur atau standar. Dasar pengharapan kita sebagai orang percaya ialah rancangan Kristus dalam hidup kita. Menaruh pengharapan kepada Kristus berarti kita percaya bahwa Tuhan selalu memberi bagian terbaik bagi setiap anak-Nya. Ayub mengalami penderitaan terus menerus, tetapi ia tetap berharap kepada Tuhan. Keadaan tidak membuat Ayub kalah dan meninggalkan Tuhan. Ia tetap berseru kepada Tuhan sekalipun semua orang meninggalkan, bahkan menghujatnya. Di tengah masalah yang tak berujung, pengenalan Ayub akan Tuhan membuatnya senantiasa tidak kehilangan pengharapan, dan menjadi buah yang manis pada akhirnya. Tetaplah berharap kepada-Nya karena kemenangan sejati bukan datang dari manusia, tetapi hanya dari Tuhan. [KH]