Charles Duhigg dalam bukunya "The Power of Habit" mengatakan bahwa 40% tindakan yang dilakukan oleh manusia dibentuk oleh kebiasaan. Kebiasaan adalah tindakan yang dapat dilakukan tanpa berpikir terlebih dulu dan akan terasa hilang bila tidak dilakukan. Dalam bukunya, Charles melakukan percobaan pada seekor monyet. Monyet itu diletakkan di dalam sebuah kandang yang di dalamnya terdapat sebuah tombol. Bila monyet itu menekan tombol, maka akan diberikan segelas jus buah segar. Hal ini dilakukannya berulang-ulang, hingga suatu kali jus diganti dengan segelas teh pahit. Monyet itu menjadi frustrasi, namun tetap menekan tombol berharap akan datang segelas jus. Kebiasaan yang sudah terbentuk tidak mudah untuk diubah, dan kebiasaan-kebiasaan itu pada akhirnya menentukan kehidupan. Kebiasaan yang buruk akan membelenggu hidup kita. Ada yang terbelenggu dengan rokok, minuman keras, penyalahgunaan obat-obatan, dosa seksual, kekerasan, kemalasan, dan lain sebagainya. Semua itu diawali dari satu tindakan yang kemudian membentuk kebiasaan.
Dalam surat Paulus kepada Titus, anak rohaninya, yang ditugaskan untuk menggembalakan jemaat di pulau Kreta, dituliskan Paulus begitu prihatin dengan keadaan jemaat di Kreta yang memiliki kecenderungan untuk berbohong, buas, rakus dan pemalas (Titus 1:12). Oleh sebab itu, Paulus mengingatkan mereka agar hidup dalam kasih karunia Allah (Titus 2:11). Kasih karunia Allah akan mendidik kita untuk dapat menahan diri, tulus dan setia kepada Allah (Titus 1:12 BIS). Kasih karunia Allah akan memberikan kita kemerdekaan yang sejati atas dosa dan kebiasaan-kebiasaan kita yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Hidup dalam kasih karunia Allah artinya kita menyadari sepenuhnya betapa besar kasih Allah yang telah menyelamatkan kita dari kematian yang kekal melalui pengorbanan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Kesadaran akan hal ini harus dibangun setiap hari, sehingga kita dengan rela hidup dipimpin oleh Roh-Nya. Kemerdekaan yang sejati datang dari penundukkan diri kita kepada kasih karunia Tuhan secara total, dengan mengakui segala dosa dan kelemahan kita di hadapan Tuhan serta memberikan otoritas yang sebesar-besarnya kepada Roh Kudus untuk memimpin kehidupan kita. [HS]