Pengkhotbah sekaligus penulis John Maxwell pernah berkata, "Seorang pemimpin adalah orang yang mengetahui jalan, melewati jalan tersebut, dan menunjukkan jalan itu kepada orang lain." Perkataan ini nampaknya menjadi refleksi dari apa yang dilakukan oleh Nehemia. Nehemia adalah seorang juru minum raja Artahsasta yang telah memimpin umat Allah, bangsa Israel dalam membangun tembok Yerusalem. Bagaimana Nehemia dapat melakukannya?
Pertama, Nehemia memiliki visi yang jelas dari Tuhan, yaitu panggilan untuk membangun tembok Yerusalem. Ini bukan sekedar dorongan simpati terhadap bangsanya, tetapi Allah sendiri yang berbicara melalui hatinya (ayat 12). Dengan visi yang jelas ini, Nehemia memberanikan diri untuk menghadap dan menyampaikan visi tersebut kepada Raja Artahsasta. Kedua, Nehemia segera menetapkan misi setelah mendapatkan visi. Ia mulai membagikan visi yang Tuhan berikan kepada orang Yahudi lainnya untuk ikut membantu membangun tembok (ayat 17). Pada ayat 18, kita melihat respon orang-orang sangat baik, mereka mengatakan, "Kami siap untuk membangun!" Ini artinya, Nehemia berhasil menyampaikan visi dan misi kepada orang lain karena ia menyertakan Tuhan dalam pekerjaannya. Setelah visi dan misi, hal ketiga yang tak kalah penting adalah aksi. Mereka segera bergegas membangun tembok Yerusalem. Sikap terpuji yang dilakukan Nehemia sebagai pemimpin adalah ia ikut turun langsung membangun tembok tersebut. Dikatakan bahwa "dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan baik itu." Dengan demikian, kita dapat merangkum kunci dari keberhasilan sebuah mega proyek. Pemimpin yang mendapatkan visi jelas dari Tuhan, yang segera merancang misi dengan matang, dan yang mulai beraksi melakukan pekerjaan bersama-sama. [LS]