Hari sudah malam ketika ambulans membawa seorang wanita ke ruang darurat. Wanita itu lolos dari usahanya untuk bunuh diri. Meski selamat, keadaan jiwanya sangat terganggu. Seorang mahasiswa seminari berdiri di samping wanita itu sambil mendengar kisahnya. Tak ada penghakiman, upaya untuk berkhotbah, dan niat untuk menyatakan kesalahan wanita itu. Mahasiswa tersebut hanya mendengar dengan penuh kasih dan menemaninya. Saat berkesempatan untuk bicara, mahasiswa itu menyampaikan bahwa betapa Tuhan mengasihi, mempedulikan, dan memahami kesedihan yang wanita itu sedang rasakan. Ketika hendak pulang, wanita yang terkesan dengan perbuatan mahasiswa yang baru dikenalnya itu bertanya, "Apakah Anda Yesus?"
Bagaimana dengan hidup kita? Apakah perbuatan-perbuatan kita membuat orang di sekitar kita bertanya, "Apakah kita Yesus?" Kita tidak bisa menyaksikan Yesus kepada sesama tanpa meneladani-Nya. Yesus adalah teladan sempurna bagi kita mengenai perbuatan dan sikap hidup-Nya. Tak ada satu pun perbuatan-Nya yang buruk dan tercela selama Ia hidup di dunia ini. Sikap-Nya mau bergaul dengan siapa pun, rendah hati, bijaksana, mengasihi, kuat namun lemah lembut dan mau berkorban. Ada saatnya, untuk menyatakan kasih Yesus kepada sesama, kadang tidak perlu dengan khotbah atau kata-kata yang memukau, tetapi dengan perbuatan. Mulailah dengan memperlakukan sesama dengan lebih banyak kebaikan hati, sopan santun, kerendahan hati dan kesabaran serta pengampunan. Sebab Tuhan Yesus mencurahkan kasih-Nya bukan hanya untuk mengasihi kita tetapi agar kita pun bisa mengasihi sesama sebagaimana kita telah dikasihi-Nya. (Yohanes 15:12). [RS]