Seorang wanita sedang sarapan bersama cucunya di Cracker Barrel. Tiba-tiba seseorang mendekati mereka dan berkomentar bahwa cucunya akan tumbuh menjadi wanita cantik yang hebat. Orang itu berkata bahwa ia memperhatikan ketika mereka sedang berdoa sebelum makan, dan ketika wanita tersebut mengajarkan table manner sederhana kepada sang cucu. Walaupun sepertinya simple, bagi wanita itu, apa yang diucapkan orang tersebut meninggalkan kesan yang kuat dan membuatnya bersemangat untuk mengawali hari.
Benarlah apa yang dinyatakan dalam Amsal bahwa "Lidah lembut adalah pohon kehidupan, tetapi lidah curang melukai hati." Sama seperti air yang dapat menyegarkan pohon yang layu, kata-kata yang menenteramkan dari lidah yang tenang dapat membangkitkan semangat orang yang mendengarnya. Sebaliknya, kata-kata yang menusuk dari lidah yang menyimpang dapat menjatuhkan semangat orang lain. Ya, perkataan kita memiliki kuasa untuk membangun atau menjatuhkan orang lain. Maka dari itu, kita harus menggunakan karunia berbicara sesuai dengan maksud sang Pemberi, yaitu apa yang menyenangkan Tuhan dan membangun sesama. Tuhan disenangkan apabila perkataan kita membina, membangkitkan semangat, dan menguatkan orang lain. Maka, kita perlu berpikir sebelum berbicara. Tanyakan pada diri sendiri, kapan terakhir kali kita memberikan pujian yang tidak bersifat umum melainkan spesifik? Apakah kita menunjukkan hormat kepada orang lain dengan mengatakan "tolong" dan "terima kasih"? Apakah informasi yang kita miliki tentang seseorang kita gunakan untuk menjatuhkan atau menasihati orang tersebut dengan kasih? Dan yang tidak kalah penting adalah bagaimana perasaan kita ketika mendengar perkataan yang tidak sopan? Marilah kita berupaya menggunakan karunia berbicara sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Bapa, yaitu untuk membangun dan menguatkan. [LS]