Kata "talita kum" yang berarti "hai anak, bangunlah!" kita temui pada bacaan Alkitab hari ini saat Tuhan Yesus membangkitkan seorang anak perempuan kepala rumah ibadat bernama Yairus. Talita kum adalah alih aksara dari Bahasa Aramik yang dapat diartikan sebagai ajakan untuk bangkit kembali. Talita kum dapat diibaratkan sebuah wake up call dari Tuhan ketika iman kita "tertidur" akibat berbagai kondisi yang tidak baik, entah dalam kesehatan, perekonomian, hubungan dengan pasangan/keluarga, ataupun masalah-masalah lainnya. Saat itu Tuhan akan berkata, "Talita kum!"
Wake up call berkali-kali dialami oleh pendiri merek cookies terkenal Famous Amos, Wally Amos. Ia dilahirkan di Tallahassee, Florida. Ibunya seorang asisten rumah tangga dan ayahnya seorang pekerja kasar di sebuah pabrik gas. Amos tumbuh dalam lingkungan miskin. Saat ia berusia 12 tahun, orangtuanya bercerai, dan ia harus pindah untuk tinggal bersama bibinya di New York. Kesulitan kerapkali menerpanya, tetapi Amos tidak pernah menyalahkan keadaan. Ia berketetapan untuk menjadi pribadi yang berguna. Ia menjadi tentara militer di AU, bekerja di Saks Fifth Avenue, dan pernah juga bekerja di William Morris Talent Agency di bidang musik. Pada saat akhirnya Amos berhasil menciptakan cookies cokelat enak yang didapatkan dari resep bibinya, ia bertekad untuk membuka toko kue yang diberi nama Famous Amos dengan pinjaman dana 25.000 dollar dari teman-temannya. Ketika Famous Amos telah menjadi sangat sukses dan terkenal di AS, perusahaannya berkali-kali bangkrut, dituntut, berganti nama, dan lain sebagainya. Pada tahun 2019, Amos Wally mendapat julukan "Raja Kue" karena ia selalu berhasil bangkit dari keterpurukannya dalam bisnis kue. Amos Wally pernah berkata, "Saya berterima kasih kepada Tuhan untuk semua pengalaman, baik dan buruk. Saya sekarang dapat mengatakan bahwa tidak ada waktu yang âsulitâ, yang ada hanyalah kesempatan-kesempatan untuk bertumbuh." Lewat kisah hidup Amos, kita menyadari bahwa jatuh bangun kehidupan adalah hal biasa, justru itu merupakan wake up call bagi kita untuk bangun dan menjadi lebih baik lagi, lagi, dan lagi. Tetaplah beriman kepada Tuhan, dan senantiasalah mengarahkan diri ke kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Persiapkan diri kita untuk menerima berbagai wake up call dari Tuhan. [CK&LS]