Hal yang kita anggap sepele, belum tentu sepele bagi orang lain, dan ini seringkali menjadi
akar masalah. Dalam bacaan kitab Roma hari ini, sebagian jemaat menilai makan makanan yang
dipersembahkan kepada berhala akan merusak iman. Itu sebabnya mereka memilih menjadi vegetarian,
karena semua daging-daging yang dijual di pasar sudah dipersembahkan kepada berhala. Sedangkan
sebagian jemaat lainnya menganggap makanan apapun boleh dimakan karena sudah dikuduskan melalui doa
dan firman Allah. Kepada dua kelompok ini, Rasul Paulus menasihati kelompok yang makan segala jenis
makanan agar tidak menghina yang makan sayuran saja seolah iman mereka lemah. Kepada yang hanya makan
sayuran, dinasihati agar tidak menghakimi yang makan segala jenis makanan seolah mereka berkompromi
dengan iman.
Dalam hidup ini, ada yang lebih penting dari sekedar bersikeras mempertahankan prinsip yang
kita anggap paling benar. "Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala
sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung!" Karena
"Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan
sukacita oleh Roh Kudus." Sadarilah bahwa ada hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu prinsip sehingga
seharusnya tidak menjadi batu sandungan dan menghilangkan damai sejahtera bagi orang lain. Dalam
keadaan demikian, kenakanlah kasih sebagai pengikat yang mempersatukan. Kasih yang menghargai, tidak
menghina, tidak menghakimi, dan tidak menuntut keserupaan dalam hal-hal yang sebetulnya tidak
prinsip. Mari berjuang untuk hal-hal yang lebih mulia, jangan sampai gereja Tuhan terpecah belah
karena hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan. [LS]