Pada tahun 1965, Bob Butler kehilangan kedua kakinya akibat ledakan ranjau di Vietnam. Beberapa tahun kemudian, ketika sedang bekerja di garasi rumahnya, ia mendengar suara jeritan wanita dari sebelah rumahnya. Ia segera menggelindingkan kursi rodanya ke pintu belakang. Semak-semak yang tinggi tidak memungkinkan kursi rodanya menembus ke rumah tersebut, akhirnya veteran itu menjatuhkan diri dari kursi roda dan merangkak melalui semak yang dapat melukainya. Suara datang dari arah kolam dan ia melihat seorang anak kecil tanpa lengan tenggelam, dan ibu anak tersebut berdiri kaku sambil menangis dan menjerit. Tanpa pikir panjang, Butler menceburkan diri menyelam ke dasar kolam dan membawanya naik. Anak itu sudah membiru dan denyut nadinya sudah tidak ada. Butler segera melakukan pernafasan buatan sementara ibunya menghubungi 911. Butler dengan tenang meyakinkan sang ibu bahwa anaknya akan selamat. ?Jangan cemas, saya telah menjadi tangannya untuk keluar dari kolam itu. Sekarang saya menjadi paru-parunya. Ia akan baik-baik saja.? Beberapa saat kemudian anak itu terbatuk dan menangis. Sang ibu bertanya pada Butler bagaimana ia yakin anaknya akan selamat. Butler menjawab, ?Ketika kaki saya hancur terkena ledakan di Vietnam, tidak ada seorangpun di situ yang menolong saya kecuali seorang gadis kecil Vietnam?. Sambil menyeret Butler ke desa, gadis itu berbisik ?Tidak apa-apa, Anda akan hidup, saya menjadi kaki Anda.?
??????????? Dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, ketika ada banyak orang yang bersikap apatis melihat pria Yahudi yang habis dirampok dan dipukuli hingga hampir mati, ia memilih untuk menolong pria Yahudi tersebut. Kisah ini menyadarkan kita bahwa semua orang bisa menjadi penolong bagi siapapun, terutama bagi orang di sekitar kita. Ketika melihat orang yang susah dan membutuhkan pertolongan, kita harus memiliki kepekaan untuk segera menolong. Inilah yang Tuhan maksud dengan hukum kedua yang berbunyi, ?Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.? Mari teladani sikap orang Samaria tersebut. Ingatlah bahwa tidak ada yang kebetulan dalam perjalanan iman kita. Ketika diperhadapkan dengan orang-orang yang membutuhkan pertolongan, itulah saatnya bagi kita untuk menjalankan apa yang Tuhan perintahkan. [LS]